Punk memang dikenal oleh masyarakat sebagai kelompok berandal, kumpulan anak-anak nakal, dan berpenampilan eksentrik. Namun setelah ku baca penelitian tersebut, ada hal yang menarik dari filosofi yang melatarbelakangi lahirnya kelompok punk. Kelompok punk awal mulanya berasal dari kumpulan buruh atau pekerja bawahan di Inggris. Kemunculan punk disebabkan kemerosotan ekonomi dan politik yang disebabkan oleh kerusakan moral para elit politik. Krisis ekonomi tersebut mengakibatkan maraknya pengangguran dan kriminalitas yang tak terkendali. Punk kemudian menyindir para elit dan penguasa melalui lagu-lagu dengan lirik yang kritis disertai irama yang keras dan menghentak. Grup band punk yang amat populer dan dianggap sebagai perintis lagu beraliran punk diantaranya adalah sex pistols. Selain gaya musik punk yang terdengar keras, lirik-liriknya pun biasanya menggambarkan bentuk perlawanan dan perwujudan dari rasa frustasi, emosi, dan kemarahan terhadap elit atau penguasa.
Punk memang dianggap sebagai simbol perlawanan terhadap kapitalisme, anti kemapanan, independensi, menjunjung kebebasan, dan anarkisme. Anarkisme menurut pemahaman punk bukanlah bermakna kekerasan seperti yang selama ini dimengerti oleh masyarakat pada umumnya. Anarkisme adalah bentuk ideologi yang menghendaki masyarakat tanpa Negara, terbebas dari sekat-sekat yang membatasi gerak, ekspresi dan pemikiran. Ideologi anarki tersebut muncul akibat anggapan bahwa Negara merupakan simbol penindasan yang diotaki para diktator. Selain sebagai bentuk ideologi politik, anarki juga dimaknai sebagai bentuk kebebasan dan kemerdekaan dari norma-norma masyarakat.
Menurutku, ada hal yang unik pada filosofi kelompok punk yaitu kata-kata yang dikenal sebagai Do it Your Self. Kata-kata tersebut merupakan wujud dari pergolakan kelompok punk yang ingin hidupnya merdeka tanpa harus ketergantungan dengan orang lain. Lakukanlah sendiri, karena kita memang bisa, dan jangan mudah tergantung dengan orang lain, mungkin kira-kira begitu maknanya. Kesannya, memang seolah kata-kata tersebut menggambarkan individualisme. Namun menurutku, kata-kata tersebut mengandung makna yang mendalam. Kita selama ini seringkali menggantungkan harapan pada orang lain, bahkan seringkali menuntut orang lain berbuat untuk kita. Hal tersebut membuat kita menjadi malas, serta kurang memaksimalkan potensi yang kita miliki. Kata-kata “do it your self” sebenarnya mendorong kita untuk bekerja keras, selalu berpikir, memaksimalkan kemampuan, dan memaksa kita keluar dari zona aman. Berada di zona aman memang memberi kita kedamaian dan kenyamanan. Namun jika kita berusaha tidak keluar dari zona aman, hal itu tidak disadari akan membuat kita semakin terperangkap pada kehidupan yang statis, kehilangan inovasi, dan anti perubahan. Oleh sebabnya, punk dikenal sebagai kelompok yang anti kemapanan. Munculnya studio indie dan distro merupakan salah satu wujud perlawanan punk terhadap kelompok yang mapan. Kelompok mapan yang dimaksud adalah perusahaan-perusahaan kapitalis yang telah memiliki nama besar seperti sony music, warner music, levi’s, nike, atau adidas.
Sangat menarik memang mengenal sosok punk yang memang selama ini dikenal sebagai kelompok radikal. Disebut radikal karena pada awal kemunculannya di Inggris, pemerintahan Inggris melakukan pengawasan yang ketat karena dikhawatirkan sepak terjang punk akan mengganggu stabilitas keamanan dan politik. Di Indonesia pun, kelompok ini pada zaman orde baru tak lepas dari pengawasan yang juga ketat dari pemerintah. Terlepas dari kontroversi kehadiran kelompok punk, filosofi “do it your self” menjadi sebuah petuah yang perlu direnungkan. Betapa Negara Indonesia ini tak kunjung maju karena ketergantungannya terhadap Negara lain. Padahal Negara kita kaya luar biasa. Jika SDM yang kurang, itu pun bisa diakali dengan cara meningkatkan mutu pendidikan dan memberi beasiswa pada orang-orang yang berprestasi untuk belajar ke luar negeri kemudian mengembangkan ilmunya di negeri sendiri. Jika petuah “do it your self” terinternalisasi dalam seluruh masyarakat Indonesia, maka bisa jadi peradaban tidak lagi di Eropa, Amerika, Jepang, Cina ataupun Korea, akan tetapi peradaban itu ada di Indonesia. Siapa yang mengira Eropa yang dulu luluh lantak akibat perang dunia I dan II kini menjadi pusat ilmu pengetahuan dunia. Siapa sangka Jepang yang dulu di bom nuklir hingga hancur lebur kini menjadi salah satu pusat perekonomian dunia. Dan tak diduga, Korea Selatan yang dulu diinjak-injak Jepang dan terlibat konflik perang saudara, kini menjadi Negara macan Asia. Hal itu tentu dari keyakinan, bahwa yang mampu mengubah keadaan mereka adalah mereka sendiri, bukan orang lain, do it your self.
Namun kita, setelah sekian lama terjajah oleh Portugis, Spanyol, Belanda, hingga Jepang kemudian merdeka pada 17 Agustus 1945, belenggu-belenggu penjajahan itu pun masih terasa hingga kini. Di ASEAN, kita tak lebih baik dari Singapura, Malaysia, maupun Thailand. Vietnam pun terus mengejar ketertinggalannya. Siapa sangka, Negara yang dulu berhaluan komunis dan diserang habis-habisan oleh Amerika, kini sedikit-demi sedikit mulai menunjukkan taringnya dalam perhelatan perekonomian ASEAN.
Kemandirian memang sangat penting dalam memperkokoh eksistensi diri. Kemandirian berarti kehormatan, sedangkan ketergantungan berarti suatu kehinaan. Memang kebanyakan dari penganut ideologi punk hidup dalam strata kehidupan yang miskin, akrab dengan kerasnya hidup di jalanan, dan terintimidasi oleh pengucilan masyarakat. Namun mereka eksis dengan tetap bekerja dan enggan menadahkan tangannya dihadapan manusia demi sesuap nasi. Ketergantungan berarti menghadapkan diri pada kehinaan dan harga diri yang terinjak-injak. Kemandirian adalah suatu keniscayaan karena manusia dibekali dengan kemampuan yang luar biasa. Temukan dirimu, Do it your self!
Tuesday, 22 September 2015
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
0 comments:
Post a Comment