Tuesday, 22 September 2015

Bangsaku Panggung Sandiwara

Acara televisi kian beragam akhir-akhir ini. Kalau dulu, sebelum tahun 2000-an, kesannya, hanya sinetron yang selalu menjadi acara unggulan. Entah mengapa sinetron dari dulu sampai sekarang pun masih saja banyak penggemarnya. Padahal jika diamati, berbagai judul sinetron itu memiliki alur cerita yang hampir selalu sama. Alurnya selalu sama, bercerita tentang percintaan, perselingkuhan, perebutan warisan, fitnah, atau permusuhan.  Jikalau ada yang berbeda, mungkin cuma aktor atau aktrisnya saja yang berbeda antara satu sinetron dengan sinetron lainnya. Untungnya, tidak semua stasiun televisi berminat menayangkan sinetron. Beberapa stasiun televisi memfokuskan acaranya pada pemberitaan. Ada pula stasiun televisi yang banyak menyiarkan kegiatan travelling ketempat-tempat wisata maupun mistis yang ada diseantero nusantara.

Keberadaan stasiun-stasiun televisi swasta baru di Indonesia seolah memberi angin segar bagi para pemirsa. Setelah sekian lama begitu jemu dengan tontonan sinetron, ternyata tayangan yang inovatif dan inspiratif mulai bermunculan. Tentunya para pendiri televisi baru itu tidak mengandalkan tenaga-tenaga berpengalaman. Tenaga-tenaga muda lebih banyak diberi kepercayaan untuk berkreasi menciptakan tayangan-tayangan berkualitas. Banyak dari kita yang mulai tersadar akan eloknya keindahan negeri ini. Munculnya acara-acara yang mengungkap keindahan negeri ini, tentu akan menumbuhkan kebanggaan dan kecintaan pada potensi wisata bangsa sendiri. Tayangan news dan travelling banyak membuka wawasan tentang realita yang terjadi disekitar kita.

Jika kita amati, akhir-akhir ini, bangsa ini sering dirundung konflik. Konflik terjadi dikalangan muda hingga yang tua, dari Aceh sampai Papua. Mulai dari tawuran antar pelajar, sampai bentrokan antar warga. Pemicunya terkadang sepele, namun ada juga yang serius. Nyawa menjadi seolah tak lagi berharga di negeri ini. Begitu mudahnya kita saling menghina, bahkan melukai. Seakan dusta anggapan bahwa negeri ini penduduknya murah senyum dan ramah. Nyatanya pembunuhan, perampokan, pemerkosaan, dan kerusuhan senantiasa terjadi setiap hari. Sedikit atau banyak, tayangan di televisi memiliki peran serta dalam pembentukan karakter orang-orang di negeri ini. Sinetron seringkali memunculkan adegan-adegan kekerasan, fitnah, hingga pelecehan seksual. Anehnya, tayangan inipun disiarkan pada jam-jam belajar, saat dimana anak-anak dapat dengan mudah menonton acara tersebut. Jika saja sinetron itu ditayangan lewat tengah malam, mungkin tidak perlu dikhawatirkan karena anak-anak telah banyak yang terlelap. Para produser tentu tidak ingin acaranya tayang lewat tengah malam, karena barangkali hanya kuntilanak, pocong, gendoruwo, atau tuyul yang masih terjaga. Sekali lagi, kepentingan kapitalis mengalahkan kepentingan ideologis. Anak-anak yang seharusnya dibentuk dengan karakter yang santun, namun justru “disuguhi” adegan-adegan kekerasan. Jadilah kita lihat saat ini, begitu mudahnya pelajar disulut emosi karena permasalahan sepele. Mereka tega menyakiti teman sebayanya demi memperebutkan dambaan hatinya. Tentu adegan “rebutan pacar” banyak didapat dalam alur cerita sinetron. Belum lagi jika kita melihat dampak sinetron pada tingkah laku ibu-ibu yang mulai senang membangkang pada perintah suami dan berani berselingkuh dengan tukang sayur saat suaminya sibuk mencari nafkah.

Tidak perlu diperdebatkan apakah sinetron memiliki korelasi atas maraknya aksi kekerasan di negeri ini. Signifikan ataupun tidak, sudah seharusnya tayangan yang banyak berisi adegan kekerasan atau konflik tidaklah patut tayang di televisi. Tentunya kita tidak ingin melihat negeri ini hancur lebur karena konflik berkepanjangan. Jika generasi muda saat ini telah terkontaminasi perilakunya oleh tayangan-tayangan kekerasan, setidaknya kita berharap agar mulai saat ini tayangan itu bisa dihentikan, sehingga generasi berikutnya tidak turut tertular tingkah-polah brengsek generasi yang hidup di masa ini.

0 comments:

Post a Comment