Jika kalian melihat peta Indonesia, maka tengoklah sejenak nama yang tertera diujung selatan Pulau Sumatera. Dibagian paling bawah pulau itu, tentu akan tampak sebuah nama yang sangat elegan, yaitu Lampung. Elegan bukan, Lampung, sungguh elegan sekali nama itu. Tahukah kalian makna dari Lampung itu? Ah, tentu kalian takkan tahu. Aku nasihatkan pada kalian, setidaknya, carilah makna kata itu diinternet. Aku sebenarnya ingin sekali memberi tahu kalian makna dari nama yang mempesona itu. Namun sayang kawan, aku pun tak tahu.
Jika kalian bisa menyebutkan nama “Lampung” dan tahu letaknya di pulau apa, apalagi kalian berasal dari pelosok hutan perawan Papua, tentulah aku akan menangis sejadi-jadinya. Pastilah aku terharu jika ada orang dipelosok Papua sana tahu nama dan letak Provinsi Lampung. Kenapa begitu? Begini ceritanya, dulu aku punya kawan yang tinggal di ibukota sebuah provinsi di Jawa. Ingat! Tinggal di ibukota di sebuah provinsi dipulau Jawa! Dia bilang, Lampung ada di Kalimantan! Alamak….Sejelek-jelek sekolah di ibukota di Jawa, tentu tak ada gedung sekolahnya yang bakal roboh kalau ditiup kentut ayam. Maksudku, tentulah bagus standar kualitas sekolah di ibukota di Jawa itu. Tapi kawanku ini, pulau tempat tinggalnya yang hanya dibelah selat yang tak seberapa lebarnya, pun tak tahu pula letak Provinsi Lampung. Sungguh mengenaskan wawasan dia itu.
Jika matamu telah tertuju pada peta Lampung, kusarankan agar kalian fokus pada sebuah titik yang berada ditengah peta. Nah, aku yakin, kalian akan menemukan sebuah nama Bandar Lampung. Iya kan? Kalian sudah lihat nama itu? Menakjubkan nama itu. Kawan, cobalah terawang peta itu. Kalian pasti akan menemukan sebuah jalan yang bernama Cengkeh. Hah? Kalian tak juga menemukannya? Cobalah terawang petamu dibawah sinar matahari pukul 12 siang, semoga kalian bisa melihat nama jalan itu. Apa? Tak juga kalian dapatkan? Bantu penglihatanmu dengan kaca pembesar, mikroskop atau teleskop. Sungguh? Tak juga kalian temukan? Sudahlah, memang kalian takkan menemukan nama itu jika kalian mencarinya di peta nasional. Lain kali, belilah khusus peta Lampung. Biar kalian tahu, kalau di Indonesia ada Provinsi yang bernama Lampung, bukan Provinsi Mesuji!
Bangga sekali aku punya nama kampung yang bernama Cengkeh ini. Di sekitar kampungku ini, setiap nama jalan adalah sejenis rempah-rempah. Timur kampungku berbatasan dengan Jalan Cempedak. Timur Cempedak berbatasan dengan Kedelai. Sementara Barat Kampungku berbatasan dengan Jalan Lada, Timur Lada berbatasan dengan Kopi. Sedangkan Selatan berbatasan dengan wilayah yang dikenal sebagai Putak. Perlu diketahui, Putak adalah singkatan dari pucuk tangkil (nama lain pohon melinjo). Di Selatan kampungku itu memang dikenal banyak terdapat pohon tangkil (melinjo). Kemudian sebelah Utara, nah ini, wilayah yang nyaris tak kukenal rimbanya. Seumur hidupku, wilayah Utara kampung ini adalah misteri. Bukan karena banyak cerita klenik, namun memang aku merasa enggan untuk kesana, dan aku pun tak peduli. Itulah sebabnya, aku bingung berbatasan dengan wilayah apa Utara kampungku ini.
Barangkali, dulu kampungku ini pernah disinggahi pelancong dari Portugis atau Spanyol untuk berbelanja rempah-rempah guna selanjutnya dibawa ke Eropa. Atau mungkin, kampungku ini adalah rangkaian perlintasan jalur sutra yang menjadi sumber utama para pedagang untuk mendapatkan rempah-rempah. Aku tak terkira bangganya, jika tempo doeloe masakan-masakan di Eropa dan Asia racikan bumbunya berasal dari rempah-rempah dari kampungku ini. Bisa jadi, dahulu kampungku ini menjadi arena pertempuran antara Portugis dan Spanyol untuk menguasai sumber rempah-rempah. Besar kemungkinan, cengkeh dari kampungku ini, menjadi bahan utama campuran pembuatan rokok dipabrik-pabrik rokok Eropa. Maka para penguasa terkemuka tempo dulu, turut merasakan cita rasa cengkeh kampungku. Aku pun sedih tak terkira, jika ternyata pendahulu di kampungku ini dijadikan buruh kebun untuk menghasilkan rempah-rempah yang berlimpah. Lebih miris lagi, seandainya kepemilikan kebun para pendahuluku, diambil paksa oleh para kompeni, setelah itu mereka disiksa, dan dijadikan budak. Meskipun begitu, ada kemungkinan di kampungku ini pernah berdiri kerajaan besar dan kaya, karena menguasai pasar rempah-rempah dunia. Tentu pikiran gilaku ini usah kalian hiraukan. Aku takut kalian ikut terkena pengaruh imajinasi gila, efek dari menganggur terlalu lama.
Kampung Cengkeh, tanah tempatku lahir, besar, serta tinggal ini, sungguh sedap dipandang dan nyaman dihati. Tempo dulu aku kecil, saat masih sering keluar ingus dari hidungku, kampungku banyak terdapat kebun-kebun rakyat. Jadilah banyak macam tanaman yang tumbuh subur. Ada rambutan, kelapa, sengon, mangga, cengkeh, kapas, jambu, jagung, melinjo, cabai, petai, jengkol, durian, nangka, cempedak, kedondong, banyak lagi lah. Maka jangan heran, di kampungku ini, banyak pula rupa burung-burung elok yang singgah, bahkan beranak pinak disini. Tiap pagi, tentu bagi penghuni kampungku yang selepas subuh tak tidur lagi, pastilah telinganya akan dimanjakan lantunan merdu dari paduan kicau burung-burung yang mulai sibuk mencari nafkah. Belum lagi, banyak pula serangga, macam kupu-kupu, capung, lebah, sampai nyamuk dan kecoa pun turut menetap. Adalagi, ikut meramaikan pula kucing dan anjing. Jika di siang hari suara bising keluar dari mulut kucing yang bertengkar karena berebut betina atau makanan, maka di malam hari lolongan anjing memecah malam sehingga memaksa warga kampung mengambil batu dan melemparkannya ke kawanan anjing-anjing itu. Tak lupa manusia itu sambil mencaci maki makhluk bermoncong itu dengan nama hewan itu sendiri. Anjing pun bingung, sudah dilempar batu, namun nama mereka sering dielu-elukan manusia hingga berteriak memekakkan telinga. Kebingungan itupun bertambah, karena pada suatu waktu, ketika nama mereka diucapkan, maka sekelompok manusia mukanya menjadi merah, lalu terjadilah baku hantam. Tanda tanya, apa yang salah dengan nama mereka.
Namun cerita indah tentang pesona ekosistem kampungku tampaknya tinggal kenangan. Kampungku yang dulu asri, kini pun terkena getah arus modernisasi. Ratusan pohon sengon yang dulu rindang, telah ditebang berganti rumah megah. Berbaris rapi pohon tangkil (melinjo) yang dulu tampak angker, ditebang satu per satu dan berdiri disitu sekolah berstandar internasional. Lebatnya kebun rambutan, yang tampak berwarna-warni disaat berbuah, semakin sedikit keberadaannya seiring pesatnya tempat pemukiman baru. Hebatnya lagi, ah, tepatnya dahsyatnya, kuburan pun mulai terdesak. Dulu orang segan tinggal didekat kuburan, entah karena takut atau hormat pada penghuninya, kini mereka tak peduli. Ada dikampungku, kuburan berada di dalam pekarangan rumahnya! Hebat luar biasa. Itulah kawan, serakahnya orang yang masih bernyawa. Tempat tinggal orang mati, ukurannya pun hanya 2x1 meter, masih harus didesak-desak lagi, bahkan acapkali digusur. Kemudian yang paling menjengkelkan pemuda kampung kami, bayangkan, kebon jengkol pun tak lepas dari tangan serakah yang bernama manusia! Kebun jengkol yang dulu rimbun lagi menyeramkan, kini berubah wujud menjadi kompleks kos-kosan putri yang para penghuninya berkelakuan sangat membosankan. Angkuh sekali mereka. Sekian tahun mereka menetap, kami para pemuda penghuni kampung, tak ada yang dikenalnya! Jangankan berkenalan, bertemu dijalan pun tak bertegur sapa atau saling mengucapkan salam. Dasar tak tahu wasiat nabi!
Kampungku yang dulu asri dengan rupa-rupa tanaman, kini beralih menjadi berupa-rupa model beton. Pagi tiada lagi kicauan burung, yang ada seringkali dentuman musik cadas Barat yang disetel bocah labil lagi sinting, aku pun yakin dia tak paham sang vokalis mengoceh tentang apa. Tak ada lagi warna-warni buah rambutan dan buah melinjo, yang ada sekarang hanyalah warna-warni jemuran pakaian yang sungguh sungkan aku sebutkan bentuk rupanya. Bahayanya, ketika musim kemarau, mata air sumur kami pun tak lagi mengalir selancar dulu. Sungguh tega, suburnya tanaman beton telah merampas salah satu sumber penghidupan kampungku, yaitu air!
Meskipun suasana alam tidak lagi seindah dulu, setidaknya, hati orang-orang di kampungku masih diliputi kesejukan. Sebuah puji syukur pada Ilahi, tiada terjadi pertikaian, bentrokan, maupun pertengkaran. Hubungan antar tetangga berjalan harmonis. Kalaupun ada sengketa, bisa diselesaikan secara kekeluargaan. Setiap perselisihan diselesaikan dengan dialog, daripada mengacungkan golok.
Puji syukur, tiada cerita kasus Mesuji yang heboh itu menimpa kampung kami. Walaupun dulu, sekali lagi dulu, aku seringkali melihat sekelompok orang di kampungku berkelahi. Setelah bergulat tak puas, mereka pun lantas pulang. Pulang bukan berarti berdamai, tapi kemudian masing-masing pihak bertikai memanggil “pasukan tambahan” sembari golok ditangannya untuk melakukan adegan perkelahian ulang. Ah, hanya gejolak muda. Sekali lagi puji syukur, tak ada nyawa yang melayang, mungkin hanya muka benjut, mata biru, bibir pecah, gigi lepas, atau kepala berdarah, hanya itu. Seburuk-buruknya dampak perkelahian kala itu hanya menginap beberapa hari di rumah sakit, ditambah beberapa minggu di rumah, lalu mereka sembuh dan siap berkelahi lagi. Namun seiring para pemuda itu telah beristri lalu beranak, maka jadilah perkelahian massal tak lagi terjadi dijalanan kampung ini. Aku beramsumsi, kini mereka sibuk menyalurkan gejolak muda mereka di rumahnya masing-masing. Inilah dahsyatnya menikah massal, bisa menghilangkan kebiasaan tawuran!
Kini, sekarang, saat ini, tapak kakiku kokoh berdiri di atas tanah kelahiranku tercinta ini. Junjungan Nabi Muhammad pun senantiasa merindukan tanah kelahirannya, Mekah. Setelah lima tahun berkelana di negeri seberang, memang sudah saatnya aku untuk kembali ke kampung halaman. Dengan membawa status baru sebagai ‘pengangguran intelektual’, tentu sebutan untuk menghibur dini; okelah jujur saja ‘pengangguran terlunta-lunta’, kini aku ingin sejenak bernostalgia merenungi kembali masa-masa indah di kampung ini. Dulu aku berat untuk merantau karena akan meninggalkan kampung ini. Namun setelah sekian lama di negeri seberang, justru kakiku berat untuk kembali ke kampungku ini. Mungkin perlulah kiranya diriku mulai membangun ikatan cinta pada kampungku ini. Namun keputusan untuk kembali ke kampung ini jelas bukan berdasar atas keterpaksaan, tetapi lebih pada tanggung jawab untuk mengangkat kampung ini agar lebih bermartabat. Aku lahir, besar, dan tinggal di kampung Cengkeh ini, maka keinginanku kian menggebu untuk memberikan kontribusi, baik tenaga, pikiran, kalau perlu nyawa. Meskipun kalian tahu siapa aku, detik ini semangat menggebu, lima detik kemudian terkantuk lalu terkapar di atas tempat tidur.
0 comments:
Post a Comment