Gunung merupakan ciptaan Allah yang amat ku kagumi. Ia begitu kokoh menghujam bumi. Jika dipandang dari kejauhan, ia teramat memesona. Sedangkan berada didekatnya, ia memberi sajian tantangan yang membuat nyali sulit untuk tidak mencicipinya. Jalur yang begitu terjalnya, memaksa tubuh untuk mengerahkan seluruh tenaganya. Jantung pun berdetak begitu kencangnya seiring jalan yang semakin curam. Tulang terasa remuk redam dibelai sentuhan hawa dingin. Atau, kulit yang menghitam karena tersengat terik matahari yang membara.
Gunung memberikan tantangan yang memang menggiurkan. Disiram derasnya hujan, diterjang ganasnya badai, atau tersesat dijalan yang berliku dan tak bertuan. Pendakian menghadapkan diri kita pada ketidakpastian. Ketidakpastian pada cuaca yang tidak menentu, nyawa yang terancam, atau fisik yang lelah. Semua itu menjadi kenikmatan tersendiri dalam suasana pendakian. Keadaan yang ekstrem ternyata tidak menjadikan para pecinta gunung menjadi ciut nyalinya. Justru dengan ketidakpastian itu, mereka menemukan suatu kepastian. Kepastian untuk menemukan kenikmatan tantangan hidup yang hakiki, kepuasan batin yang tiada ternilainya.
Gunung telah memberi banyak pelajaran filosofis kehidupan. Ia mengajarkan tentang hakikat kemenangan. Ternyata kemenangan hanya bisa diraih setelah seluruh jiwa dan raga ini mengerahkan seluruh tenaga dan potensinya. Suatu keberhasilan hanyalah bisa diraih dengan jalan yang menanjak, terjal, dan penuh halang rintangan. Kesuksesan haruslah melangkahi onak dan duri. Gunung juga mengajarkan kita tentang metode meraih puncak kebahagiaan. Suatu kebahagiaan haruslah diperoleh dengan terlebih dahulu mengeluarkan tetes keringat, nafas yang tersengal-sengal, dan tubuh yang lemah lunglai.
Tak hanya itu, gunung pun mengajarkan filosofi kehidupan dari sisi yang lain. Suatu filosofi yang banyak manusia lupa disaat mereka meraih puncak kemenangan. Ia mengajarkan bahwa puncak kemenangan tidak bisa dirasakan dalam waktu yang lama, namun hanya sebentar saja. Disaat berada dipuncak, maka kita harus kembali ke bawah. Kita akan kembali pada masa untuk turun tahta, dan memberikan kesempatan pada yang lain. Berada dipuncak memberi kita kebahagiaan, namun juga menghadapkan kita pada situasi ekstrem. Keadaan yang jauh lebih sulit. Oleh karenanya, kita harus kembali turun. Setiap manusia pasti mengalami siklus masa keemasannya, namun ia juga akan mengalami periode masa-masa kelam. Manusia selalu menghadapi fase kehidupan pasang dan surut. Bagaimana mungkin ia terlena dalam masa-masa indah jika ia memahami filosofi kehidupan ini, sementara masa kelam sudah siap menantinya.
Gunung memberi kita suasana psikologis yang demikian kompleks. Jiwa, raga, dan pikiran kita saling bersinergi untuk menggapai puncak. Dalam pendakian, diri kita akan selalu diliputi dengan ketakutan, kehausan, kelaparan, kelelahan, kesakitan, hingga kantuk yang mungkin tak tertahankan. Namun derita itu semua akan menguap seiring kaki ini menggapai puncak tertinggi. Tiada lagi keluh kesah. Bibir akan kembali tersenyum, tubuh kembali bugar, dan pikiran pun akan tercerahkan. Pemandangan elok tersaji dihadapan mata. Lukisan alam terhampar demikian luas. Lantunan tasbih pun terus menggema didalam hati, sebuah tanda akan kekaguman pada ciptaan Tuhan yang teramat serasi. Batin demikian terpuaskan. Demikian aneh makna dari sebuah pendakian. Pendakian memang melelahkan. Namun lelah yang teramat menyenangkan. Sungguh rumit mengurai suasana jiwa yang tercampur aduk. Entah mengapa pendakian gunung memberi efek adiktif. Selalu saja akan timbul keinginan untuk ingin mengulanginya lagi.
Gunung memanglah sangat mengagumkan. Tak hanya menyajikan pemandangan yang membuat lidah akan terus bertakbir, namun juga pelajaran filosofi kehidupan yang begitu berharga. Ketawakalan kita akan teruji dan ketauhidan akan keesaan Tuhan pun semakin terasah. Allah Ta’ala tentu menciptakan gunung untuk memberi kita banyak pelajaran kehidupan. Pelajaran yang hanya bisa diresapi oleh orang-orang yang selalu merenungi setiap kejadian alam dengan menggunakan akal pikirannya. Dan semoga, kita termasuk orang-orang yang senantiasa berpikir. Aamiin.
Aku ingin menikmati pendakian, menjadikannya bagian hidup yang tak terpisahkan. Aku ingin merasakan kesejukan disaat udara yang menggigil, menikmati kehangatan dikala teriknya matahari, dan membangkitkan keberanian diwaktu malam yang mencekam.
Tuesday, 22 September 2015
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
0 comments:
Post a Comment