Monday, 11 January 2016

Keteledoran Metro TV Memasukkan Wahdah Islamiyah dan DR. Zaitun Rasmin Sebagai Teroris

Metro tv kembali membuat ulah dengan memasukkan organisasi Wahdah Islamiyah, beserta ketua umumnya yaitu Dr. Zaitun Rasmin sebagai jaringan teroris di Indonesia.

Perlu diketahui, selain menjabat sebagai ketua umum Wahdah Islamiyah, Dr. Zaitun Rasmin juga aktif sebagai Wasekjend MUI Pusat dan Ketua Ikatan Dai Asia Tenggara. Beliau juga pernah diundang sebagai narasumber dalam program Indonesia Damai di TV One dan Cahaya Hati ANTV.
Jika beliau memiliki track record sebagai pelaku terorisme atau memiliki pemahaman teroris, maka bagaimana mungkin beliau bisa menduduki jabatan penting di MUI.

Metro TV memang sembrono dalam mengeluarkan berita, apalagi jika itu berkaitan dengan umat Islam. Apakah karena penonton Metro TV yang semakin sedikit, sehingga harus mencari sensasi untuk meningkatkan rating. Seringnya, oleh Metro TV,  umat Islam dijadikan sasaran kesalahan atas setiap peristiwa kekerasan yang terjadi di negeri ini.

Apakah Metro TV diisi oleh redaktur-redaktur somplak yang tak mampu melakukan riset sebelum menerbitkan sebuah berita. Begitu mudahnya menuduh seseorang tanpa disertai dengan bukti yang valid dan dapat dipertanggungjawabkan.

Wahdah Islamiyah merupakan ormas Islam yang lahir di Makassar, Sulawesi Selatan. Ormas ini tak beda dengan ormas lainnya di Indonesia, seperti Muhammadiyah, NU, atau Persis yang fokus kegiatannya adalah dakwah, pendidikan, dan sosial. Tujuan didirikannya Wahdah Islamiyah bukanlah untuk membuat onar, apalagi menebar teror ke seantero negeri. Wahdah Islamiyah didirikan untuk menebarkan kebaikan, mengajak umat muslim untuk kembali ke agamanya, menjalankan syariat-syariatnya, dan turut membantu sesama, semisal anak yatim dan fakir miskin.

Kembali kepada syariat jangan melulu diartikan sebagai keyakinan yang radikal, keras, atau kolot. Untuk menjadikan negeri ini baik, kita tidak bisa hanya bergantung pada kerja polisi, hakim, ataupun jaksa. Kita butuh dai yang maju berdakwah untuk mengajak orang lain menjadi baik secara sadar. Itulah salah satu fungsi dan manfaat keberadaan ormas Islam yaitu mengajak dan mengubah seseorang untuk tidak mencuri, tidak membunuh, tidak berzina, tidak minum minuman keras, dengan menyampaikan nasihat yang menggugah hati, bukan dengan ancaman senjata atau pidana sebagaimana yang dilakukan aparat.

Oleh karenanya, begitu berbahayanya tuduhan Metro TV yang memasukkan Wahdah Islamiyah dan ketua umumnya, Dr. Zaitun Rasmin, sebagai jaringan teroris nasional. Karena dengan tuduhan itu, tentu akan merusak citra Wahdah Islamiyah sebagai lembaga sosial dan dakwah, dan Dr. Zaitun Rasmin sebagai seorang dai. Maka dengan berita bohong itu, Metro TV sudah melakukan pembunuhan karakter!

Jika Metro TV merasa bahwa berita yang disampaikannya adalah valid, apakah mereka berani bertemu, berdialog, atau berdebat langsung dengan Dr. Zaitun Rasmin? Memang aneh, ketika seorang pejabat atau penguasa parpol dituduh atas suatu perkara, Metro TV masih sempat melakukan cek dan ricek, kepada yang bersangkutan. Namun mengapa dalam kasus tuduhan teroris ini, mengapa Metro TV tidak terlebih dahulu mengecek kebenarannya? Apakah karena Dr. Zaitun Rasmin bukan seorang politisi yang menduduki jabatan elit, dan jauh dari kursi penguasa, lantas Metro TV dengan seenaknya berlaku semena-mena? 

Betapa jahatnya jika Metro TV tidak berusaha mengklarifikasi beritanya yang telah menuduh Dr. Zaitun Rasmin dan organisasi yang diketuainya, Wahdah Islamiyah, sebagai jaringan teroris nasional. Beliau adalah seorang dai, dimana seorang dai sangat membutuhkan nama baik, kredibilitas, agar dakwahnya dapat diterima oleh banyak orang. Jika nama baik seorang dai tercemar, apakah ada orang yang mau mendengar nasihatnya? Metro TV sebenarnya telah melakukan kejahatan, karena telah menyebar berita dusta yang dapat membunuh karakter seseorang.

Apakah Metro TV sedang merasa kebal hukum, karena sang owner berada dalam lingkar kekuasaan RI 1, sehingga begitu mudahnya menayangkan berita sembrono. Seharusnya Metro TV tahu diri dengan segera meminta maaf kepada Dr. Zaitun Rasmin atas pemberitaannya yang berbau hoax itu.


Tapi yang lebih menarik tentu jika redaktur berita Metro TV berani berdebat dengan petinggi-petinggi Wahdah Islamiyah untuk mempertanggungjawabkan tuduhan mereka yang menyatakan bahwa Dr. Zaitun Rasmin dan organisasinya, Wahdah Islamiyah, termasuk jaringan teroris nasional. Berani dengan tantangan ini? Jika mereka berani mempertanggungjawabkannya dengan berdikusi atau berdebat langsung dengan petinggi Wahdah Islamiyah, apalagi disiarkan oleh Metro TV sendiri, tentu patut diacungi jempol. Namun rasanya itu hanyalah mimpi.

Metro TV Media yang Jemawa

Ketika Anda melihat seseorang yang berperilaku angkuh, congkak, sombong, merendahkan orang lain, maka itulah sosok yang jemawa.

Sifat jemawa memang baru-baru ini sangat cocok jika dilekatkan dengan sesosok media bernama Metro TV yang dengan lantangnya berani menuduh sebuah ormas Islam (Wahdah Islamiyah) dan seorang dai (Dr. Muhammad Zaitun Rasmin) dengan tuduhan sebagai jaringan teroris nasional. Entah redaktur sang media jemawa sedang bermimpi, mengigau, atau mengantuk, berani menayangkan berita dengan bobot keabsahan yang tak bisa dipertanggungjawabkan.

Wahdah Islamiyah merupakan ormas Islam resmi yang terdaftar di Direktorat Jenderal Kesatuan Bangsa dan Politik Kementrian Dalam Negeri. Demikian juga Dr. Zaitun Rasmin merupakan seorang dai yang memiliki jabatan sebagai Ketua Umum Wahdah Islamiyah, Wasekjend MUI, narasumber program ceramah di tv nasional (TV One dan ANTV), dan selalu melakukan tabligh secara terbuka. Jadi jangan samakan Wahdah Islamiyah dengan ISIS yang masuk ke negeri ini dengan cara menyelinap diam-diam. Dan jangan samakan Dr. Zaitun Rasmin dengan gembong teroris Santoso yang aktivitasnya selalu di pelosok hutan lebat. Jadi logika ngelindur bin ngelantur redaktur berita dari sang media jemawa dengan memasukkan sebuah ormas yang terdaftar legal dan seorang dai yang selalu melakukan dakwah terbuka, sebagai jaringan teroris nasional. 
Sang media jemawa begitu serampangan menuduh suatu kelompok atau person ke dalam jaringan teroris. Waktu bergulir, sejak datangnya tuduhan itu, ormas Islam dan dai yang dituduh segera berusaha membuat klarifikasi ketidakbenaran berita yang disampaikan oleh sang media jemawa. Citra ormas Islam dan dai itu tentunya sedikit tercoreng dengan adanya tuduhan teroris itu.

Sang media jemawa tampaknya memang tenang-tenang saja. Tidak terdengar atau terlihat membuat klarifikasi atau meminta maaf atas berita dusta yang sudah ditayangkannya. Kebetulan owner sang media jemawa berada dekat dilingkaran penguasa. Apa jangan-jangan sang media jemawa sedang merasa kebal hukum karena Jaksa Agung pun, dulunya adalah anak buah dari sang owner. Niat hati mau menuntut hukum, eh, malah dituntut balik.
Setiap pemberitaan tentang teroris, sang media jemawa selalu fokus main tuduh pada kelompok dan orang Islam. Padahal baru berstatus terduga. Namun pemberontak dibagian Timur Indonesia sana yang jelas-jelas ingin memisahkan diri dari NKRI dan membunuhi puluhan aparat TNI-Polri, tak pernah dijuluki dengan sebutan teroris. Apakah karena pemberontak yang diujung timur sana tidak menggunakan atribut Islam, tidak bernama Islam, tidak berideologi Islam, meskipun meneror penduduk sipil dan aparat militer, lantas tidak layak disebut teroris?

Jadi sebenarnya apa definisi teroris? Apa kriteria suatu kelompok atau seseorang layak disebut teroris? Apakah teroris adalah setiap pihak yang berlawanan ideologi dengan sang media jemawa. Jelas cara seperti itu tidaklah adil.

Tapi namanya juga jemawa, biasanya bertindak ‘suka-suka gua’. Yang penting berita panas sudah bergulir, tayangan dapat rating, order iklan pun mengalir. Perkara kelompok atau orang yang dituduh teroris jadi pusing, ‘emangnya gua pikirin’. Barang kali itu isi otak dari redaktur-redaktur dari sang media jemawa. Mereka bertindak tanpa tanggung jawab. Ketika diprotes, bisa jadi mereka akan koar-koar dengan semboyan kebebasan pers.

Sang media jemawa ini tampaknya memang tak mengenal kata salah dan dosa. Mungkin menurut mereka, orang-orang yang membuat rusuh, melempar batu, dan menghunus pisau, baru itu disebut anarki. Padahal orang-orang yang duduk dibalik meja redaksi dengan membuat berita yang menghujat dan menuduh dengan sembrono, hakikatnya sama dengan berbuat anarki. Mereka ini telah menebarkan kebencian, permusuhan, dan adu domba ditengah masyarakat, sekaligus melakukan pencemaran nama baik pada pihak yang telah dituduh tersebut.

Goresan tinta yang berisi hujatan dan tuduhan keji dapat membunuh kehormatan seseorang. Apalagi jika tuduhan itu di-blow up media, maka dampak merusaknya akan lebih besar lagi. Apa jadinya hidup dengan kehormatan yang sudah terkoyak, apalagi jika dia seorang dai.

Namun sudah menjadi sejarah yang akan selalu terulang bahwa suatu kelompok atau individu yang melakukan aktivitas dakwah, akan selalu ada pihak-pihak yang merasa gerah dan kepanasan, sehingga harus merasa perlu untuk menghalang-halangi aktivitas dakwah tersebut.

Karena tidak pernah mendapat respon anarki, nampaknya itu yang membuat sang media jemawa merasa bebas untuk menuduh kelompok-kelompok Islam dengan tuduhan yang keji. Tentu aktivis dakwah merasa tidak perlu untuk berbuat anarki kepada sang media jemawa, karena darah mereka terlalu mahal untuk dialirkan hanya karena sebuah pemberitaan media jemawa yang hakikatnya murahan. Propaganda kotor sang media jemawa rasa-rasanya tidak akan menyurutkan perjuangan para aktivis dakwah. Bahkan masyarakat luas pun nyata-nyata sudah muak dengan segala bentuk pemberitaan sang media jemawa yang hanya menjadi corong pencitraan politik sang owner.

Sebenarnya sudah menjadi keharusan jika setiap pemberitaan harus berdasar fakta dan data yang valid. Jika sang media jemawa ini mengaku sebagai sebuah news station, maka tiap pemberitaannya harus bisa dicek kebenarannya. Jika pemberitaannya tidak bisa dibuktikan kebenarannya, maka tak bedanya sang media jemawa dengan biang gossip, kalau tak mau dibilang sebagai pendusta.


Wahdah Islamiyah Membantah Tuduhan Keji Metro TV!

Redaktur berita Metro TV sungguh teledor ketika membahas pemberitaan tentang jaringan teroris nasional. Entah mereka dapat info dari bungkus gorengan atau kliping loakan, sehingga bisa ngawur memasukkan Wahdah Islamiyah sebagai bagian dari jaringan teroris.

Pemberitaan dari redaktur Metro TV yang keblinger dan terkesan asal jeplak itu memang seharusnya segera dikoreksi. Jika dibiarkan begitu saja, maka akan merusak kredibilitas Wahdah Islamiyah sebagai lembaga dakwah, pendidikan, dan sosial yang legal.

Berikut ini fakta-fakta tentang Wahdah Islamiyah.

Wahdah Islamiyah merupakan ormas Islam yang berdiri sejak tahun 2002 serta terdaftar di Kementrian Dalam Negeri RI. Jadi Wahdah Islamiyah berdiri dengan mendaftarkan diri di lembaga pemerintahan, bukan dengan cara kucing-kucingan dengan aparat.

Muktamar I Wahdah Islamiyah di Makassar pada 27 Juli 2007 dibuka langsung oleh Wapres RI Jusuf Kalla, bukan dibuka oleh pimpinan Al-Qaeda, Osama Bin Laden.

Wahdah Islamiyah memiliki markas pusat yang beralamat di Jl. Antang Raya 48, Makassar, Sulawesi Selatan. Letaknya mudah dijangkau dengan kendaraan pribadi atau umum. Jadi jangan bandingkan dengan letak markas OPM, Din Minimi mantan kombatan GAM, atau Kelompok Santoso di Poso yang Anda harus bersusah-susah masuk ke wilayah hutan lebat atau mendaki ke puncak gunung untuk mencapai lokasinya, itu pun Anda belum tentu bisa pulang dengan selamat.

Ormas ini juga memiliki lembaga pendidikan mulai tingkat PAUD hingga perguruan tinggi. Seluruhnya terdaftar di institusi resmi pemerintahan. Tentu lembaga pendidikan yang dimaksud adalah sekolah sebagaimana umumnya, bukan lembaga pendidikan militer yang menghasilkan sniper atau bomber.

Wahdah Islamiyah memiliki website resmi yaitu www.wahdah.or.id yang umumnya berisi artikel islami serta publikasi kegiatan dakwah dan sosial. Hosting dan domain berbayar, bukan gratisan.
Seluruh kegiatan Wahdah Islamiyah berupa kajian keislaman, tabligh akbar, aksi sosial, dapat diikuti oleh masyarakat luas dan tidak bersifat eksklusif kalangan internal organisasi saja.

Jadi organisasi ini resmi didirikan dengan mengikuti prosedur undang-undang organisasi kemasyarakatan. Tidak ada gerakan organisasi untuk memisahkan diri dari NKRI atau dorongan melakukan aksi bombardir ditempat-tempat umum. Membunuh kucing saja diharamkan, apalagi membunuh manusia.

Oleh karenanya, kepada redaktur berita Metro TV, jika merasa pejantan tangguh, intelektual sejati, jurnalis jujur dan bernurani, cobalah berhadapan dengan pengurus Wahdah Islamiyah untuk mempertanggungjawabkan tuduhan kalian bahwa Wahdah Islamiyah adalah bagian dari jaringan teroris nasional. Jabarkan dengan bukti ilmiah tentang kebenaran pemberitaan kalian. Jangan hanya berani lempar berita panas, lalu sembunyi dibalik meja.

Kalau Metro TV diplesetkan dengan Media Teror TV, karena pemberitaannya selalu main tuding dan tuduh, sehingga orang yang diberitakan selalu merasa terteror, toh para redaktur  Metro TV itu tidak terima juga kan?