Banyak orang besar yang ternyata muncul justru bukan dari kalangan akademisi. Akademisi yang dimaksud disini adalah para intelektual yang lahir dari lingkungan universitas. Toh, walaupun bukan dari kalangan akademisi, tetapi mereka tetap saja dianggap orang-orang hebat. Hasyim Asyari (ketua NU pertama) dan Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah) yang pengagumnya sangat banyak. Terbukti, NU dan Muhammadiyah adalah ormas yang simpatisannya berasal dari ujung Barat Aceh sampai ujung Timur Papua. Buya Hamka, novelis, sejarawan, ahli fikih, ahli tafsir, dan politikus yang sangat terkemuka di Indonesia. Mantan Presiden Indonesia, Soeharto, bukanlah sarjana, tapi berkuasa di Indonesia selama 32 tahun. Om Bob Sadino, pengusaha sukses. Irwan Hidayat, tamatan SMA, bos pabrik jamu Sido Muncul. Muhammad Natsir, ulama dan politikus kondang di Orde lama. W.S. Rendra, pendekarnya puisi dan syair, DO UGM, tapi malah dapet Doktor Honoris Causa dari UGM.
Masih banyak lagi sebenarnya orang-orang besar yang lahir bukan dari latarbelakang perguruan tinggi, tetapi mereka memiliki semangat juang yang tinggi, memberi kontribusi yang besar bagi bangsa, dan dikenang penerusnya sepanjang masa.
Realitanya, manusia terbaik adalah mereka yang selalu belajar dan bisa mengambil hikmah dari proses belajar mata kuliah kehidupan di universitas alam semesta yang masa studinya seumur hidup. Tetangga, saudara, kerabat, dan orangtua adalah rekan kuliah dan juga guru kita yang sesungguhnya. Sedih, musibah, bencana, marah, senang, dan bahagia adalah hakikat ujian bagi kita. Rumah, sawah, kebun, hutan, gunung, kantor, pasar, masjid, gereja, vihara, terminal, pelabuhan, jalanan, pemakaman, penjara, tempat-tempat kerumunan lainnya adalah laboratorium kehidupan kita. Mereka yang berperan dan berkontribusi besar bagi penjagaan eksistensi umat yang bernyawa, maka layaklah baginya predikat pahlawan. Pujian baginya tidak sekedar datang dari insan bernyawa, Tuhan pun akan membanggakannya dihadapan para hamba-hamba-Nya.
0 comments:
Post a Comment