Tuesday, 22 September 2015

Polemik Ahmadiyah

Orang bilang demokrasi adalah jalan keadilan. Keadilan yang utopia, mimpi yang tak akan jadi nyata. Demokrasi tetap akan meninggalkan jejak-jejak penindasan, karena ia mudah dipermainkan oleh pemangku kekuasaan yang tiran. Realitanya, dalam praktiknya, kebenaran tak selalu berada pada pihak mayoritas, dan mayoritas tak berarti pemenang. Itulah yang dialami umat Islam saat ini, khususnya di Indonesia. Polemik Ahmadiyah, sebenarnya bisa selesai jika demokrasi diaplikasikan dengan jujur di negeri ini. Dalam demokrasi, esensinya, mayoritas merupakan jawara, penentu kebenaran. Mayoritas umat Islam meyakini bahwa Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai nabi terakhir, tiada nabi setelahnya. Sedangkan Ahmadiyah, sekte yang mengakui sang pendusta Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi, mereka hanyalah minoritas. Jika kita ingin menerapkan demokrasi dengan jujur, dimana kebenaran ditentukan oleh mayoritas, maka seharusnya kita sepakat bahwa keyakinan Ahmadiyah adalah salah. Islam mengakui adanya perbedaan, perbedaan yang jelas-jelas berbeda, yaitu adanya agama-agama selain Islam. Islam tidak menghendaki adanya perbedaan persepsi didalam ajarannya, terutama menyangkut permasalahan prinsip. Persaksian dan pengakuan terhadap Muhammadshallallahu ‘alaihi wasallam sebagai utusan Tuhan dan nabi terakhir, merupakan pondasi keislaman seseorang. Muhammad sebagai nabi terakhir adalah kebenaran mutlak, keyakinan yang tidak bisa diganggu gugat, nilai-nilai prinsip yang telah menjadi konsensus umat Islam di seluruh dunia, sejak diangkatnya Muhammad sebagai nabi hingga hari kiamat kelak.

Pada masa Kekhalifahan Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu, untuk membela kehormatan Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai nabi, perang terbuka pun dilakukan terhadap pendusta yang mengaku sebagai nabi palsu yang muncul saat itu, Musailamah Al-Kadzab. Sedangkan pada era pemerintahan umat Islam saat ini, idealnya memang pemerintah melakukan hal yang sama terhadap pelaku penistaan kehormatan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Setidaknya, menolak legitimasi eksistensi sekte-sekte nabi palsu, meskipun itu sebenarnya dianggap sebagai tindakan yang terlemah. Kita memang tidak menginginkan adanya aksi anarki, pengrusakan, atau teror terhadap sekte-sekte menyimpang. Namun bila upaya persuasif secara argumentatif tidak dihiraukan, bahkan cenderung diabaikan, maka tidak bisa disalahkan umat Islam melakukan tindakan agresif, meskipun memang tidak dapat dibenarkan. Jika ada wacana dari pemerintah untuk membubarkan ormas-ormas yang “suka” memicu keributan dan pengrusakan, maka sebenarnya pemerintah lebih layak untuk membubarkan sekte yang membahayakan moral, spiritual, dan keyakinan masyarakat. Bagaimanapun, menjaga moral dan spiritual masyarakat harus lebih diutamakan daripada sekedar melindungi aspek materil.

Jika ada orang yang mengaku sebagai muslim, namun ia mengakui adanya nabi setelah Muhammad, apakah dirinya pantas dinilai sebagai muslim, sementara ia telah melanggar aturan-aturan baku yang telah ditetapkan syariat. Memang wahyu memungkinkan perbedaan interpretasi, itupun tidak dalam segala aspek syariat. Dalam akidah, interpretasi tidak dilakukan secara semena-mena, sebab akidah bersifat kaku dan baku, hanya membolehkan satu tafsiran. Berbeda dengan aspek fikih atau muamalah, yang bersifat fleksibel, sehingga didalamnya bisa terdapat interpretasi lebih dari satu. Akidah memang wilayah hitam dan putih, tidak ada irisan abu-abu ditengah-tengahnya. Oleh sebab itu, terminologi dalam akidah hanya mencakup dua hal, benar atau salah; beriman atau kafir; lurus atau sesat.

Umat Islam sepakat bahwa penentuan benar atau salah, beriman atau kafir, lurus atau sesat, adalah otoritas Tuhan. Namun kita tidak perlu bersusah payah harus bertemu Tuhan untuk menegaskan perihal itu benar atau sesat. Tak usah terkecoh dengan ungkapan, “Apakah Anda sudah bertemu Tuhan kalo hal itu sesat?” Mungkin orang yang menyatakan ungkapan itu telah mengelabui dirinya sendiri, karena berusaha berpaling dari kebenaran yang sudah jelas berada dihadapan matanya. Tuhan telah mengutus nabi yang memberi petunjuk kepada umat manusia dalam bentuk sunnah. Tuhan pun telah menurunkan wahyu-Nya dengan perantaraan Jibril kepada nabi-Nya. Nabi-nabi-Nya pun telah menjelaskan secara rinci dan jelas tentang nilai-nilai kebenaran kepada umatnya. Tidak ada kebenaran yang tersembunyi, karena wahyu telah tersampaikan seluruhnya untuk menjadi pedoman hidup manusia. Wahyu memberi panduan kepada manusia untuk menentukan dan menilai hakikat kebenaran. Apabila kebenaran selalu bersifat relatif dengan alasan hanya Tuhan yang dilangit yang tahu, maka kita anggap apa Al-Qur’an dan hadis yang telah diturunkan ke bumi itu? Bukankah Al-Qur’an dan hadis merupakan sumber norma yang berasal dari Tuhan? Apa kita ingin beranggapan bahwa Tuhan dan nabi-nabi-Nya telah menyembunyikan kebenaran? Jika muncul anggapan adanya kebenaran yang masih tersembunyi, sekalipun hanya satu kebenaran, maka sama saja ia menganggap nabi sebagai penghianat. Perlu dipahami bahwa kebenaran yang dimaksud disini adalah dalam konteks ajaran Islam.

Tiap-tiap individu memang bertanggung jawab atas amalannya masing-masing. Mungkin, tidak ada orang yang ucapan dan perbuatannya yang seluruhnya benar, dalam batas tertentu bisa jadi ia terjerumus dalam kesesatan. Kesesatan yang dilakukannya memang menjadi urusan pribadinya dengan Tuhannya, jika kesesatannya itu sebatas pikiran yang diyakininya sendiri. Tentu menjadi perkara, apabila pikirannya itu terucap dalam kata-kata, apalagi sampai menjelma dalam bentuk perbuatan, sehingga bisa mempengaruhi kondisi psikologis orang lain yang ada disekitarnya. Akan lebih berbahaya lagi, jika dirinya dengan sengaja menyebarkan, berusaha meraih simpati dan dukungan untuk menjaga eksistensi kesesatannya itu. Kita tidak peduli jika kesesatannya dinikmatinya sendiri, namun kita merasa bertanggung jawab untuk menghalangi dan menekan, bila kesesatan itu berusaha disebarluaskan.

Agama, apapun namanya, pasti memiliki batasan-batasan, yang bila seseorang keluar dari batasan itu, maka ia dihukumi sebagai bersalah. Islam sebagai agamarahmatan lil’alamin, menyadari bahwa manusia adalah sosok makhluk yang tak lepas dari kelemahan dan kesalahan, sehingga memberi kesempatan bagi mereka yang berbuat salah untuk kembali pada kebenaran. Tak peduli sebesar apapun kesalahannya, selama ia kembali pada tuntunan wahyu dalam keadaan nafas masih mengalir dalam tubuhnya, Tuhan tetap akan mengampuninya. Tuhan Maha Pengampun, dan ampunan-Nya Maha Luas, tergantung pada kita, mau atau tidak kita bertaubat dan kembali pada ajaran Al-Qur’an dan hadis.

Bagi yang tetap berkeyakinan bahwa kesesatan hanya bisa diketahui jika manusia harus bertatap muka langsung dengan Tuhannya, maka atas dasar apa ia membangun sikapnya seperti itu. Dia anggap Al-Qur’an dan hadis itu apa? Apa dianggapnya dua sumber wahyu itu sebagai titah tak bermakna dari nenek moyangnya? Apa ia mengingkari perjuangan para nabi yang telah bersusah payah menyampaikan kebenaran kepada manusia! Setiap orang memang berhak berkomentar, namun alangkah baiknya jika ia berkomentar sesuai kompetensinya. Agama bukan masalah sepele yang tiap orang berhak menyatakan interpretasinya. Serahkan pada pihak yang memiliki otoritas, yaitu ulama. Jika tiap orang merasa berkompetensi memberikan resep obat, maka mungkin akan banyak orang yang keracunan, overdosis, bahkan mati seketika. Maka begitu juga agama, bila semua orang merasa memiliki kewenangan menginterpretasi agama, maka akan banyak orang yang tersesat, “Maka bertanyalah kepada ahli zikir (ulama), jika kamu tidak mengetahui.” Wallahua’lam

Belajar Memasrahkan Rezeki

Syukur selalu terucap tatkala mata menatap mentari. Waktu terus berganti seiring kegelapan yang beralih terang. Cahaya membangkitkan umat manusia dari lelapnya yang begitu panjang. Kehidupan kembali berjalan, bersamaan dengan bunga-bunga yang mulai bermekaran. Dinginnya malam pun sirna dengan kehadiran hangatnya pagi. Daun tak lagi meneteskan embun bersamaan sinar yang kian terik, mungkinkah ini pertanda air mata duka segera berganti air mata kebahagiaan. Sorot sinar mentari menyiratkan bahwa seberat apapun kehidupan, sekelam apapun jalan yang pernah dilalui, selalu akan ada secercah harapan. Begitulah filosofi kehidupan, di belahan bumi manapun, pekatnya malam selalu silih berganti dengan cerahnya mentari. Tiada sungai yang tak mengalir, tiada samudera yang tak berarus, tiada laut yang tak pasang-surut, tiada pantai yang tak berombak; hidup tak pernah statis maupun stagnan, namun selalu bergerak mengikuti dinamika ketentuan dan takdir yang telah Tuhan gariskan untuk setiap hamba-Nya.

Inilah kisah makhluk ciptaan Tuhan yang mampu terbang di angkasa dan menjelajah bumi tanpa terhalang oleh batas alam. Kala pagi kembali hadir, burung-burung beterbangan mengepakkan sayapnya memburu karunia Tuhan. Perut mereka yang keroncongan tidak menyurutkan keyakinan bahwa Tuhan nanti sore pasti akan menjadikan perut mereka kenyang. Mereka pun terbang ke arah yang mampu dituju. Kemanapun itu, di belahan bumi manapun, disana selalu ada benih rejeki yang telah Tuhan taburkan. Burung selalu yakin mampu menembus angin yang kencang. Mereka tak takut tersesat ditengah luasnya langit. Nalurinya tak pula resah apalagi berkeluh resah tentang rezeki yang telah ditentukan. Dirinya tiada terhadang oleh badai yang datang menerjang. Tubuhnya terus berayun memburu takdir diantara kilatan-kilatan petir. Hujan yang mengguyur tidak menyiutkan nyalinya untuk berteduh. Burung-burung itu tahu, rezeki telah menanti. Nyatanya, rezeki yang tak terduga selalu saja menghampiri. Waktu terus berlanjut, burung-burung itu pun kian yakin, Tuhan takkan pernah menghianati mereka.

Burung-burung bahagia hidup di alam bebas. Kebahagiaan tak terperi mampu terbang menjelajah seantero bumi. Demi ritual migrasi, mereka rela menempuh jarak beribu mil, berhari-hari, dan hanya sesekali berhenti. Tak terlintas untuk menyerah meski ancaman kematian terus menghantui. Burung-burung itu, begitu teguh mengikuti nalurinya. Tiada mereka mempertanyakan ketentuan Tuhan yang teramat berat ini. Beribu mil mesti ditempuh sepanjang tahun, dengan resiko mati tercabik oleh mulut pemangsa. Hanya dengan berbekal naluri dan keyakinan, burung-burung itu terus melaju dan menembus awan hingga pemberhentian akhir di belahan bumi yang lain.

Disaat makhluk lain yang bernama manusia berperang demi memperebutkan sumber daya alam, burung dengan eloknya terbang tanpa dihinggapi rasa takut kekurangan makanan. Sebaliknya, manusia sampai rela mencuri, membunuh, memfitnah, dan membantai demi memenuhi hasratnya terhadap sepiring makanan. Sepiring makanan yang tak hanya sekedar mengenyangkan perutnya, namun juga memenuhi nafsunya terhadap kekuasaan. Segenggam biji telah cukup menjadikan burung bersyukur pada Tuhannya. Akan tetapi sepiring makanan tidak menjadikan hasrat manusia puas. Sepiring makanan mendorong ambisi untuk meraih keinginan yang lebih tinggi lagi. Ketakutan akan keterbatasan sumber alam sanggup mendorong manusia untuk bertempur hingga titik darah penghabisan. Pada sisi ini, barangkali naluri burung lebih beradab dibanding akal manusia. Seringkali akal yang terbatas ruang pikirnya dipaksa untuk memasuki zona ketuhanan yang takkan pernah mampu dijangkau oleh indera makhluk manapun. Manusia hanya diminta oleh Tuhan sebagaimana perintah-Nya pada burung, yaitu berusaha. Manusia diwajibkan untuk untuk berusaha sebaik-baiknya, namun tak dipaksa untuk berhasil. Oleh karenanya, masalah kadar rezeki yang akan diperoleh, maka serahkan semuanya pada kuasa-Nya. Dalam hal kebahagiaan, boleh jadi burung menjadi makhluk yang paling bahagia. Sebaliknya manusia, jiwa mereka acapkali sakit karena selalu dilanda kegundahan atau dirudung kecemasan. Naluri membimbing burung untuk senantiasa bertawakal, kepasrahan diri yang tinggi. Sedangkan akal manusia seringkali memberontak, bahkan selalu mempertanyakan ketentuan Tuhan.

Barangkali kita harus banyak belajar bagaimana burung menjalani hidupnya. Sebelum manusia mengenal jam kerja 8 jam, ternyata burung sudah menerapkan jam kerja. Burung mencari makan di pagi hari dan kembali ke sarangnya saat waktu menjelang sore. Sebelum manusia bisa terbang ke angkasa, maka burung telah menjelajah seisi dunia. Dalam banyak hal, terutama ketawakalan, manusia masih harus belajar kepada burung. Jika ketawakalan pada setiap insan begitu kokoh, maka tiada lagi istilah gila, stress, frustasi, depresi, cemas, ataupun takut. Tawakal adalah sumber kebahagiaan, karena menyandarkan kehidupan kepada Sang Pemilik Kehidupan. Jiwa yang bahagia tentu akan menjadi jiwa yang sehat. Jiwa yang sehat akan membentuk manusia berperilakuan yang baik. Manusia berperilakuan baik akan membentuk masyarakat yang beradab. Masyarakat yang beradab akan membentuk kebudayaan yang bernilai tinggi. Kebudayaan yang bernilai tinggi merupakan pintu bangsa menuju negara dengan puncak kejayaan dan kedigdayaan. Hanya Tuhan yang tahu, apa yang baik untuk kita.

Merajut Mimpi Yang Terkoyak

Setiap manusia selalu memiliki mimpi-mimpi. Kata seorang ulama, tanda sehatnya akal seseorang adalah mimpi yang tinggi. Mimpi disini maksudnya bukan bunga tidur, tapi menunjuk pada padanan kata cita-cita. Tentu standar tinggi-rendahnya cita-cita dikembalikan pada masing-masing individu. Bisa jadi menurut si empunya mimpi, mimpinya itu sudah terlampau tinggi. Namun dalam pandangan orang lain, bisa jadi mimpinya dianggap terlalu rendah.

Nah, kalau ada orang yang merendahkan mimpi-mimpimu, dianggap kurang waras, mustahil, ganjil, gila, atau sinting, maka janganlah gentar untuk terus melangkah maju. Tapi kuingatkan, itupun jika yang menilai hanya dua atau tiga orang saja. Sangat wajar ada segelintir manusia di muka bumi ini yang selalu berlawanan pikiran denganmu. Mereka ini, yang kerjaannya selalu tampil beda denganmu, bisa jadi telah terserang penyakit dengki. Camkan itu, dengki! Mudahlah mencari penangkal gangguan penyakit dengki macam itu. Teruslah sukses. Kalaupun gagal, jangan biarkan sekalipun kegagalanmu tampak oleh mereka. Mereka akan frustasi dan stress setiap melihat engkau dihinggapi kesuksesan. Tabiat pendengki, selalu stress dan frustasi melihat lawannya selalu berhasil. Orang pun sudah mafhum, gangguan stress bisa memicu ragam penyakit. Jantung, darah tinggi, stroke, adalah sebagian kecil penyakit yang biasa hinggap pada penderita otak korslet seperti dengki. Cepat atau lambat, pendengki akan mati dengan ulahnya sendiri. Beragam rupa penyakit bermunculan dalam tubuhnya. Tubuh pun lama kelamaan tak sanggup menahan gempuran bibit penyakit, bakteri atau virus yang menyusup ke dalam tubuhnya. Matilah ia secara tersiksa. Tak perlu ke dukun meminta santet sakti. Buat apa pula menyewa pembunuh bayaran. Sungguh repot harus membeli racun. Bersahabatlah dengan sukses, maka pendengki akan terus pusing otaknya. Dia mati sedikit demi sedikit, tersiksa. Musuhmu berguguran, tanpa engkau harus mengotori tanganmu dengan secercah darah pun. Kau tumbuh sukses, virus disekitarmu dengan sendirinya berguguran. Begitulah sahabat super! Akan tetapi, perhatikan, bila ternyata semua orang yang kau temui menilai mimpimu gila, maka kusarankan segeralah kau pergi ke ahli jiwa. Ah, tapi apa peduli orang lain, usah kau hiraukan. Ingatlah rekat-rekat petuah Bang Iwan Fals, “Biar mereka bicara, telinga kita terkunci!” Mantap bukan main nasihat Bang Iwan itu.

Hal yang paling sulit untuk aku rumuskan tentang hidupku adalah menentukan mimpi-mimpi yang ingin kuraih. Tempo dulu waktu aku kecil, waktu ingus masih sering keluar dari lubang hidungku, aku ingin sekali bisa menjadi pemain bola. Sejak kecil, tepatnya, ah, lupa aku, kira-kira sejak SD-lah, aku sudah sering berkeliling dari satu lapangan ke lapangan yang lain hanya untuk bisa menyepak bola. Tak tanggung-tanggung, berkilo-kilometer pun aku lalui, tentunya bersama kawan-kawanku, mencari lawan tanding sepakbola. Jadilah aku dan kawan-kawanku sekomplotan bocah petualang yang senang mencari musuh. Musuh dalam artian positif, lawan tanding bola. Pastilah aku enggan untuk berkumpul-kumpul guna mencari keributan. Semenjak kecil, aku selalu ditanamkan untuk cinta perdamaian dan anti kekerasan. Tak ada istilah anarki dalam benakku. Pernyataanku ini sungguhlah jujur, sebab berdasar perenunganku, tindakan paling brutal yang pernah aku lakukan adalah saat membaringkan kepala sapi yang disembelih secara keji oleh seorang penjagal tak berpengalaman pada saat idul kurban beberapa tahun yang lalu. Kusarankan jangan kau bayangkan ekspresi sapi disembelih oleh penjagal tak berpengalaman. Luar biasa seramnya wajah sapi itu, tak tega aku. Ditangan orang sepertinya itulah, syariat sembelih kurban bisa disidangkan ke Mahkamah Internasional di Den Haag sana. Apalagi kalau bukan atas nama hak asasi hewan ternak!

Seingatku, menjadi pemain bola adalah obsesiku semenjak SD sampai SMP. Pada masa SMA, diriku vakum cita-cita. Mungkin itu tanda-tanda kalau akalku, berdasar maklumat sang ulama, agak kurang sempurna. Perlu dipahami, kalimat “akal agak kurang sempurna” adalah penghalusan dari ungkapan “tidak waras”. Tetapi aku bisa disebut sebagai fanatik sepakbola. Sewaktu akan menjalani ujian akhir nasional kelas 6 SD, ketika teman sebayaku mungkin mengalami kepenatan dengan buku-bukunya, aku justru ke lapangan bermain bola. Berbagai bentuk kontur dan jenis lapangan sepakbola pernah aku rasakan. Aku pernah bermain di lapangan bekas penggarapan sawah, tempat pembuangan sampah, tanah sengketa, tanah tak bertuan, kebun kelapa, halaman masjid, jalanan aspal, tanah miring, bahkan kuburan! Kuburan? Tentu bukan bermain tepat di atas kubur itu. Lapangan itu dekat kuburan. Kalau bola tertendang jauh ke sisi selatan lapangan, maka tersangkutlah bola itu disalah satu pusara di pemakaman. Untuk mengambil bola, jangan lupa ritual ucapkan salam dan masuk dengan berjinjit, karena kita akan masuk ke area padat pemakaman. Segala cedera pun pernah aku alami. Bukan hal aneh kaki terkilir, tangan keseleo, atau lutut terluka. Tampaknya menyakitkan dengan berbagai derita yang harus aku alami. Namun dibalik derita itu akan selalu ada hikmah, itulah kata pak haji.

Begitu luasnya pengembaraanku bertanding sepakbola, dari satu lapangan ke lapangan yang lain, tanpa disadari, menjadikan aku punya banyak kawan. Ketika aku bermain ke selatan kampungku, ada saja yang menyapaku. Beralih ke barat kampungku, aih, tampak ada yang melambai. Berkunjung ke timur, ada yang mengajakku bincang-bincang. Melangkah ke utara, ternyata ada yang mengucapkan salam. Elok bukan main, itulah saat dimana aku merasa jadi orang terkenal di kampungku. Sungguh beda saat ini, setelah lama aku merantau dan kembali ke kampungku, justru aku merasa seperti orang asing. Tiada yang menyapaku, semua orang abai dengan kehadiranku, bahkan seringkali orang malah memalingkan mukanya dari pandanganku. Berbeda, sungguh sangat berbeda, seakan tak lagi yang aku kenal di kampungku ini. Apalagi disaat menganggur, bermacam gejala perilaku aneh mulai menjangkiti. Aku lebih senang menyepi. Berusaha lari dari keberadaan manusia. Selalu ada prasangka. Mulai menyukai aktivitas monoton dan berulang-ulang, seperti lebih suka membaca buku berulang-ulang. Begitu tamat, ku baca lagi. Tamat lagi, ku baca lagi. Selesai, aku ulang dari awal lagi. Mungkin ini gejala autis, phobia, dan depresi. Tiga gejala gangguan jiwa bereaksi secara simultan, sungguh mengenaskan.

Cita-citaku memang seperti kerumunan ikan koki diberi makan, timbul dan tenggelam. Menjadi pemain sepakbola pun tidak mungkin diwujudkan. Selain tidak mendapat restu orangtua, aku pun tidak mempunyai klub. Mustahil bagi seseorang yang tidak memiliki klub bisa berkiprah dalam ajang sepakbola profesional. Setamat SMA, muncul kembali cita-cita gemilang. Hebat bukan kepalang cita-cita baruku, menjadi ahli jiwa! Berjuanglah aku mati-matian untuk bisa kuliah di fakultas ilmu jiwa, di sebuah universitas yang konon kabarnya cukup terkemuka di negeri ini. Tak tanggung-tanggung, targetku adalah menjadi doktor dalam ilmu jiwa. Tapi sayang, tampaknya pilihan itu sulit aku wujudkan. Baru lulus sarjana dari bidang ilmu jiwa, ternyata aku sudah dibuat trauma dan mengidap berbagai gejala gangguan jiwa. Pusing bukan kepalang aku untuk memulihkannya. Mungkin aku lebih baik menjadi guru mengaji daripada menjadi ahli jiwa.
Setelah aku merevisi cita-citaku sebagai ahli jiwa, aku pun berusaha mencari cita-cita yang ingin aku gapai. Tatkala aku naik bus antar kota antar provinsi, aku berpikir betapa nikmatnya bisa menjadi kernet bus antar kota antar provinsi. Kernet itu bisa hilir mudik, traveling, jalan-jalan keliling kota gratis! Aku suka mengamati tingkah mereka. Saat akan berangkat, dia hanya berkemas-kemas merapikan barang bawaan penumpang. Lalu mengecek daftar penumpang sebelum bus melaju, kemudian dia duduk tenang disamping sopir setelah bus berjalan. Sambil duduk itu, dia hanya mengamati jalan, terkadang sambil merokok atau memutar lagu. Aih, nikmat sekali hidupnya, itu pikirku.

Dilain waktu, aku duduk termenung di masjid mengamati seorang imam masjid. Dalam pikiranku, alangkah beruntungnya dia menjadi imam. Segala geraknya selalu diikuti. Orang-orang yang berdiri dibelakangnya hanya mengikuti, tiada yang menentang. Saat dia sujud, orang lain pun ikut sujud. Ketika dia duduk, orang lain pun duduk. Tatkala kepalanya menoleh sambil mengucap salam, orang-orang pun tak protes, turut mengikutinya. Tak peduli orang susah atau pejabat, bahkan presiden, jika mereka menjadi makmum, maka harus patuh pada imam. Menjadi imam bak diktator, setiap katanya harus disimak, geraknya harus diikuti, dan doanya harus di-amin-i. Tak ada kompromi bagi makmum, tak boleh protes, ketaatan mutlak, siapa berani melawan, berarti solatnya tidak sah! Bayangkan olehmu kawan, jika imam sujud, lalu ada makmum yang protes tetap berdiri. Apa jadi solatnya? Tak ada demokrasi dalam solat berjama’ah. Laporlah pada Komnas HAM atau PBB, solat jama’ah akan selalu begitu ketentuannya. Pikirku, beruntunglah orang yang menjadi imam itu.

Pada lain kesempatan, aku merenungi lantunan azan dari masjid sebelahku. Begitu azan berkumandang, maka mulai berdatangan orang-orang dengan pakaian rapi dan bersih ke masjid. Saat azan nyaring diangkasa, seluruh kegiatan seakan terhenti sejenak. Suara tv dan radio dilirihkan. Percakapan terdiam sesaat, pekerjaan ditunda. Seakan-akan tidak ada yang berani menyaingi perintah yang terdengar dari corong suara masjid itu. Aku kagum pada muadzin, panggilannya mampu menghentikan segala kesibukan manusia. Pikirku, nikmatnya menjadi muadzin.

Saat yang berbeda lagi, aku termenung lagi. Sewaktu aku menonton sebuah acara petualangan, terlintas dalam pikiranku, beruntungnya host dan camera person-nya. Mereka bisa berpetualang ke berbagai tempat, menikmati keindahan alam semesta, lalu mencicipi makanan khas daerah setempat. Tapi apalah daya, aku lihat cermin, lalu kutatapi dalam-dalam cermin itu. Harus aku akui, wajahku belum dibilang layak tampil di tv.

Namun di suatu pagi, tiba-tiba aku melihat sebuah baliho yang sungguh menginspirasi. Aku amati secara seksama foto di baliho itu, perasaanku mulai bergetar. Wajahnya tersenyum mengembang pada siapa saja. Tak peduli didepannya pengemis, pengangguran, tukang sampah, pedagang kaki lima, mahasiswa, atau pejabat, senyumnya akan selalu manis. Pagi itu, aku tatap foto dirinya yang tetap tersenyum. Pikiranku melayang, timbul semangat baru. Semangat ini muncul tiba-tiba untuk membangun kembali cita-citaku. Dari foto itu, muncul keinginan kuat untuk mewujudkannya dengan sepenuh hati. Tanpa tersadar, doa mulai dipanjatkan. Kaki kian kokoh berdiri, tangan terkepal kuat. Imajinasi membawaku seakan aku mengenakan seragam yang ia kenakan. Bayang-bayangku menerbangkanku pada mimpi bahwa suatu saat di baliho itu akan terpampang wajah dan senyumku. Maka, sejatinya sejak pagi itu tekad mulai ku bulatkan, sebuah cita-cita mulia yang teramat agung, mimpi menjulang tinggi yang menunjukkan sehatnya akalku. Wahai kawan, sahabat, kerabat, saudaraku dimanapun kalian berada, aku sampaikan mimpi-mimpi mulia yang bangkit dari persemayaman hatiku yang terdalam, aku ingin menjadi Gubernur Lampung! Merdeka!

Bangsaku Di Masa Depan

Kawan, apa kiranya yang kalian pikirkan tentang Indonesia tercinta ini lima puluh tahun ke depan? Aku yakin, pasti ada di antara kalian yang akan berpikiran optimis. Barangkali para optimistik ini memperkirakan Indonesia di masa depan akan menjadi negara adidaya menggantikan Amerika. Mungkin juga, Indonesia akan menjadi pusat segala kemajuan sains, budaya, industri, pertahanan, sosial, pendidikan maupun ekonomi. Dengan berpikiran optimis, kita bisa berandai-andai, kampus terbaik tak lagi berlokasi di Inggris atau Amerika, tapi berada di Salemba, Jalan Ganesha, atau Bulaksumur. Namun bagaimana bagi para penganut pesimistik? Tentu mereka berpikir bahwa lima puluh tahun ke depan, Indonesia kemungkinan masih berkutat pada krisis ekonomi, korupsi, kemiskinan, dan pengangguran. Pengangguran? Ah, kata itu lagi. Seperti hantu saja kata itu, menakutkan. Pengangguran, kata itu memang menyeramkan, tapi ada kemungkinan yang lebih buruk yang bisa saja terjadi pada bangsa ini. Bayangkan olehmu, bagaimana jika lima puluh tahun lagi tak ada negara yang bernama Indonesia! Disintegrasi! Gawat, sungguh gawat! Perlu kalian ketahui Kawan, saat ini aku memang pengangguran, tapi bukan berarti aku berputus asa dengan nasibku yang tak kunjung membaik ini. Maksudku, tak berarti karena lamaranku selalu ditampik perusahaan dalam negeri, sehingga aku sakit hati, lantas aku melamar jadi anggota GAM, RMS, atau OPM, kemudian menjadi terobsesi untuk menjadikan Indonesia bubar, bukan itu. Aku tetap cinta Indonesia. Perkara aku selalu ditampik perusahaan dalam negeri, itu perkara mereka yang tidak mampu melihat diriku sebagai sosok yang loyal, pintar, pekerja keras, ulet, tidak sombong, dan rajin menabung. Inilah bahayanya penganut aliran pesimistik, melihat suatu objek perkara selalu dari perspektif negatif. Oleh sebab itu, kusarankan kalian, jauhilah wartawan infotainment.

Dalam perenunganku, alangkah banyaknya negara baru yang bisa terbentuk jika bangsa ini terpecah belah. Barangkali, akan muncul negara baru seperti Nangroe Aceh Darussalam, Republik Rakyat Batak, Republik Sosialis Minangkabau, Kerajaan Melayu Riau, Republik Demokratik Bengkulu, Kesultanan Lampung, Nagari Ngayogyakarta Hadiningrat, United States of Borneo, Kekaisaran Bugis, atau United Kingdom of Papua.

Itulah bahayanya terlalu lama menganggur. Pelaku menjadi terlalu banyak merenung. Acapkali, perenungannya itu menelikung batas-batas norma dan etika. Ketika merenung, maka pelaku biasa secara sengaja membiarkan pikirannya menembus batas waktu guna menemukan kebahagiaan dalam pikirannya itu. Ada di antaranya yang berusaha mengingat kembali keindahan di masa lalu, ada pula yang berimajinasi hingga melesat ke masa depan. Bagi perenung yang senang bernostalgia, mereka beranggapan bahwa masa lalunya begitu manis, dan hidup yang sedang dijalaninya saat ini teramat pahit. Sedangkan bagi perenung yang senang berangan-angan, itu lebih karena masa lalu, serta saat hidupnya kini, tiada yang bisa ia banggakan, jadilah ia berharap masa depan bisa memberinya harapan kesenangan. Hebatnya lagi, merenung bisa menjadikan objek yang tidak ada menjadi ada. Terdapat perbedaan signifikan antara tukang angan-angan dengan innovator. Perbedaan utamanya yaitu, pada tukang angan-angan, ia tidak akan pernah berusaha meraih atau mewujudkan objek yang tergambar dalam pikirannya tentang masa depan. Lain halnya dengan innovator, pikirannya melesat hingga ke masa depan, namun mereka berusaha mewujudkan objek yang tertangkap dalam pikirannya tentang segala kemungkinan yang akan terjadi di masa yang akan datang. Jika tak ada sosok innovator seperti Thomas Alva Edison, maka jadilah kita selalu hidup dalam masa kegelapan, tanpa lampu. Dan apa gunanya seseorang dipanggil orang pintar (baca: peramal) namun hanya banyak berkhayal, sementara ia sendiri tak mampu menghilangkan kata “Bodo” dari namanya.

Dalam tiap perenungan, tidak selalu seseorang mendapatkan kebahagiaan. Seringkali mereka malah mengalami stress tingkat tinggi. Tekanan tinggi itu disebabkan pikirannya telah memasuki zona prediksi negatif. Perenung yang mendapat kebahagiaan, mereka selalu berpikir masa depannya akan cerah, secerah pagi di musim kemarau. Sebaliknya, perenung yang tersiksa, selalu meramalkan hidupnya kelak akan melarat, miskin, kelaparan, terlilit utang, atau dihinggapi banyak penyakit. Seseorang yang pikirannya memasuki zona prediksi negatif, melihat dirinya senantiasa diintai oleh kemungkinan-kemungkinan buruk berupa segala macam kesengsaraan. Keberanian memasuki zona prediksi negatif dapat berakibat fatal. Akibat terburuk tentunya menjadi komplotan orang sinting di jalanan yang selalu disalaki anjing rabies, sedangkan dampak teringan setidaknya menjadi pecandu obat Bodrex. Maka kusarankan, jauhilah pikiranmu dari zona prediksi negatif. Kalaupun engkau nekat memasuki zona itu, janganlah berlama-lama berada di sana, bahaya!

Hal yang lebih berbahaya dari zona prediksi negatif, yaitu zona alam ghaib. Tampaknya memang mistis, namun ku peringatkan keras, jangan sekali-kali pikiranmu memasuki zona sangat terlarang itu. Usahlah sekali-kali engkau memikirkan bentuk rupa jin, iblis, atau setan. Bila nyatanya dirimu penakut, siap-siaplah engkau mengidap schizophrenia, atau minimal menjadi phobia. Jangankan ditempat gelap seperti kuburan, berada di rumah sakit siang bolong pun bisa membuatmu takut karena pikiranmu akan terasosiasi pada suster ngesot. Jika ada pelawak yang juga meminati dunia mistis, maka dirinya berpotensi terkena gejala gila dua alam, yaitu gila di dunia maupun di akhirat. Tiada perlu pula memikirkan Tuhan. Ku yakinkan, Tuhan akan selalu baik-baik saja tanpa perlu engkau pikirkan. Dia sudah pasti ada tanpa perlu repot-repot dibuktikan dengan segala bentuk percobaan eksperimen. Jika nekat memikirkan ada-tidaknya Tuhan, kemungkinan terburuk adalah bakal gantung diri dengan tali jemuran, atau minimal menjadi penghuni seumur hidup rumah sakit jiwa.

Tidur merupakan cara paling jitu mengendalikan pikiran. Dengan tidur, berarti kita secara sengaja tidak memfungsikan otak untuk berpikir. Bisa jadi hipotesisku ini salah. Tapi, apakah bisa seseorang yang tertidur pulas sambil memikirkan sesuatu? Alhamdulillah ya, sepertinya tidak bisa. Jika masih memikirkan sesuatu, berarti kita belum tertidur pulas. Namun, janganlah tidur terlalu lama. Resiko terburuk tidur terlalu lama adalah tidak bisa bangun lagi, sedangkan resiko teringan yaitu tak kunjung mendapat pekerjaan.

Bila bangsa ini semakin maju, berharap saja penggangguran akan berada pada titik terendah 0%. Betapa ruginya bangsa ini membiarkan bertumpuk-tumpuk generasi mudanya dibiarkan menganggur. Disaat negara lain, seperti Jerman dan Jepang bingung digerogoti oleh kaum tua, justru bangsa ini membiarkan potensi kaum mudanya terlunta-lunta. Semoga tiada lagi yang tersiksa dengan pikirannya sendiri. Jika engkau masih menganggur, tetaplah bersyukur, setidaknya engkau diberi Tuhan banyak waktu untuk berimajinasi. Tetaplah bersyukur.

Bangsaku Panggung Sandiwara

Acara televisi kian beragam akhir-akhir ini. Kalau dulu, sebelum tahun 2000-an, kesannya, hanya sinetron yang selalu menjadi acara unggulan. Entah mengapa sinetron dari dulu sampai sekarang pun masih saja banyak penggemarnya. Padahal jika diamati, berbagai judul sinetron itu memiliki alur cerita yang hampir selalu sama. Alurnya selalu sama, bercerita tentang percintaan, perselingkuhan, perebutan warisan, fitnah, atau permusuhan.  Jikalau ada yang berbeda, mungkin cuma aktor atau aktrisnya saja yang berbeda antara satu sinetron dengan sinetron lainnya. Untungnya, tidak semua stasiun televisi berminat menayangkan sinetron. Beberapa stasiun televisi memfokuskan acaranya pada pemberitaan. Ada pula stasiun televisi yang banyak menyiarkan kegiatan travelling ketempat-tempat wisata maupun mistis yang ada diseantero nusantara.

Keberadaan stasiun-stasiun televisi swasta baru di Indonesia seolah memberi angin segar bagi para pemirsa. Setelah sekian lama begitu jemu dengan tontonan sinetron, ternyata tayangan yang inovatif dan inspiratif mulai bermunculan. Tentunya para pendiri televisi baru itu tidak mengandalkan tenaga-tenaga berpengalaman. Tenaga-tenaga muda lebih banyak diberi kepercayaan untuk berkreasi menciptakan tayangan-tayangan berkualitas. Banyak dari kita yang mulai tersadar akan eloknya keindahan negeri ini. Munculnya acara-acara yang mengungkap keindahan negeri ini, tentu akan menumbuhkan kebanggaan dan kecintaan pada potensi wisata bangsa sendiri. Tayangan news dan travelling banyak membuka wawasan tentang realita yang terjadi disekitar kita.

Jika kita amati, akhir-akhir ini, bangsa ini sering dirundung konflik. Konflik terjadi dikalangan muda hingga yang tua, dari Aceh sampai Papua. Mulai dari tawuran antar pelajar, sampai bentrokan antar warga. Pemicunya terkadang sepele, namun ada juga yang serius. Nyawa menjadi seolah tak lagi berharga di negeri ini. Begitu mudahnya kita saling menghina, bahkan melukai. Seakan dusta anggapan bahwa negeri ini penduduknya murah senyum dan ramah. Nyatanya pembunuhan, perampokan, pemerkosaan, dan kerusuhan senantiasa terjadi setiap hari. Sedikit atau banyak, tayangan di televisi memiliki peran serta dalam pembentukan karakter orang-orang di negeri ini. Sinetron seringkali memunculkan adegan-adegan kekerasan, fitnah, hingga pelecehan seksual. Anehnya, tayangan inipun disiarkan pada jam-jam belajar, saat dimana anak-anak dapat dengan mudah menonton acara tersebut. Jika saja sinetron itu ditayangan lewat tengah malam, mungkin tidak perlu dikhawatirkan karena anak-anak telah banyak yang terlelap. Para produser tentu tidak ingin acaranya tayang lewat tengah malam, karena barangkali hanya kuntilanak, pocong, gendoruwo, atau tuyul yang masih terjaga. Sekali lagi, kepentingan kapitalis mengalahkan kepentingan ideologis. Anak-anak yang seharusnya dibentuk dengan karakter yang santun, namun justru “disuguhi” adegan-adegan kekerasan. Jadilah kita lihat saat ini, begitu mudahnya pelajar disulut emosi karena permasalahan sepele. Mereka tega menyakiti teman sebayanya demi memperebutkan dambaan hatinya. Tentu adegan “rebutan pacar” banyak didapat dalam alur cerita sinetron. Belum lagi jika kita melihat dampak sinetron pada tingkah laku ibu-ibu yang mulai senang membangkang pada perintah suami dan berani berselingkuh dengan tukang sayur saat suaminya sibuk mencari nafkah.

Tidak perlu diperdebatkan apakah sinetron memiliki korelasi atas maraknya aksi kekerasan di negeri ini. Signifikan ataupun tidak, sudah seharusnya tayangan yang banyak berisi adegan kekerasan atau konflik tidaklah patut tayang di televisi. Tentunya kita tidak ingin melihat negeri ini hancur lebur karena konflik berkepanjangan. Jika generasi muda saat ini telah terkontaminasi perilakunya oleh tayangan-tayangan kekerasan, setidaknya kita berharap agar mulai saat ini tayangan itu bisa dihentikan, sehingga generasi berikutnya tidak turut tertular tingkah-polah brengsek generasi yang hidup di masa ini.

Memakmurkan Masjid

Bagi umat muslim, masjid merupakan tempat paling sakral di muka bumi. Masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat peribadatan, namun juga sebagai tempat penentuan kebijakan yang berkaitan dengan kemaslahatan umat. Tuhan pun memberikan keutamaan 27 derajat bagi hamba-Nya yang mau solat berjama’ah di rumah-Nya itu. Kewajiban bagi setiap laki-laki yang sudah baligh (puber) untuk segera berangkat ke masjid begitu azan berkumandang. Bagi wanita, keutamaan bagi mereka menunaikan solat di rumahnya, meskipun ke masjid pun tidak dilarang.

Tidak semua orang yang datang ke masjid bertujuan untuk menunaikan solat. Jika seseorang datang dengan pakaian takwa, peci, dan sarung, maka kemungkinan besar orang itu memang bertujuan ingin solat. Orang yang datang ke masjid dengan berpakaian kantor, biasanya selain solat, tujuan mereka setelah itu adalah istirahat atau tidur-tiduran. Adapula orang yang ke masjid berpakaian kumal, muka begitu kusam, badannya terlihat kotor. Biasanya mereka akan duduk di depan gerbang masjid, menadahkan tangan, lalu memelas, itulah pengemis. Jika begitu solat didirikan, sementara ada sesosok manusia yang duduk-duduk di teras masjid dengan pandangan yang suka menoleh kanan-kiri, maka hati-hatilah, karena kemungkinan akan ada sandal, helm, sepatu, atau kotak infak yang hilang. Biasanya terdapat orang yang membawa tas koper besar. Selesai solat dia terburu-buru keluar masjid sehingga lupa berzikir dan berdoa, lalu dia sibuk membuka tas kopernya sambil menata rapi barang bawaannya di halaman masjid, maka biasanya orang seperti itu pedagang sepatu atau pakaian keliling. Namun bila ia dengan sengaja membiarkan tas kopernya tergeletak di dalam masjid, maka waspada, jangan-jangan bom di dalamnya.

Pada kesempatan yang lain ibu-ibu datang ke masjid dengan pakaian yang seragam, membawa rebana, lalu mengecek mikrofon dengan berkata, “tes, tes, tes,” maka siap-siap kita akan mendengar solawat dan kasidahan yang bertalu-talu dari corong speaker masjid. Paduan suara yang serasi, selaras, harmonis, namun tak dibarengi suara merdu. Ibu-ibu itu begitu percaya dirinya memamerkan suaranya di depan mikrofon, tanpa mempedulikan banyak orang disekitarnya yang telinganya begitu tersiksa. Pakaian ngaji mereka selalu seragam, pertanda mereka selalu kompak dan teratur. Bilamana diperintah, mereka siap siaga menjalankan perintah sebagaimana mestinya. Atas penilaian itu, mereka layak menjadi peserta kajian “Mama Dedeh”. Supervisor acara pun tak perlu lagi repot melatih mereka agar serempak mengucap “iya dong”. Selesai dari kajian “Mamah Dedeh”, ibu-ibu kompak itupun diundang tampil dalam kajian Ustadz Maulana. Supervisor acara pun tak perlu repot mengajarkan ibu-ibu itu agar serempak berteriak “Alhamdulillah…”. Itulah buah keteraturan dan keharmonisan. Setelah tampil di dua acara tv, saat keesokan harinya berbelanja di warung sayur, ibu-ibu itupun akan cerita tentang penampilannya di tv. Dari warung sayur, berita menyebar ke RT sebelah. Dari RT sebelah, lalu ke kampung sebelah. Dari kampung, lalu ke pasar. Penyebaran berita tidak penting itu terus melaju tanpa ada yang sanggup menghentikannya. Itulah sulitnya menjadi ibu-ibu. Sudah mengaji pun masih sulit menjaga lidah agar tak bergosip. Pagi hari mereka menyimak kajian Mamah Dedeh di Indosiar, Ustadz Solmed, Ustad Maulana, kamudian Mamah dedeh lagi di ANTV, namun sorenya mereka tak lepas dari Kiss, beralih ke Status Selebriti, dilanjutkan Cek dan Ricek, kemudian Silet, diakhiri hidangan Insert. Inilah gejala kepribadian ganda.

Sore hari, masjid akan ramai dengan anak-anak. Mereka datang ke masjid untuk belajar mengaji. Lekuk-lekuk huruf hijaiyah yang rumit itu sedikit demi sedikit mereka pelajari. Awalnya memang terbata-bata, namun lama-kelamaan akan makin terdengar merdu bacaannya. Setelah lancar membaca Al-Qur’an, ayat demi ayat pun mulai dihafal. Itu gambaran ideal pembelajaran anak-anak di masjid. Realitanya, gambaran ideal itu banyak yang melenceng pada praktiknya. Sungguh senangnya anak-anak beramai-ramai datang ke masjid untuk belajar mengaji. Namun apa jadinya saat ditanya gurunya, “anak-anak, siapa yang belum solat?”, lantas seluruh santri mengangkat tangannya sebagai pertanda mereka belum menunaikan rukun Islam kedua itu. Tiba-tiba guru shock dan segera pingsan ditempat. Sang guru pun siuman, kemudian berusaha menenangkan diri. Ia menghibur diri dengan memaklumi ulah anak didiknya yang tidak solat karena mereka memang belum masuk usia wajib solat. Waktu demi waktu sang guru terus memaklumi tindakan indisipliner anak didiknya dari menunaikan solat. Nyatanya, ketika anak didiknya sudah masuk wajib militer pun, mereka tak kunjung komitmen mendirikan solat. Sang guru menyesal, namun tetap bangga pada anak didiknya yang begitu merdu melantunkan ayat suci. Jadilah sang guru tersenyum puas melihat anak didiknya berdasi, akan tetapi selalu lupa memakai celana.

Begitulah masjid dengan ragam fenomena dan peristiwa yang terjadi di dalamnya. Masjid adalah rumah Allah. Namun sayangnya, banyak orang sulit membedakan rumah Allah dengan gedung DPR. Bukti nyata bahwa lebih banyak sandal dan sepatu yang hilang di masjid dibanding di gedung DPR. Tapi biarlah, semua orang pun paham, di gedung DPR, memang bukan sepatu atau sandal yang sering dicuri, tetapi uang rakyat yang dicuri. Ah, barangkali pencuri uang rakyat di gedung DPR itu menganggap dirinya seperti Robin Hood. Ia mencuri uang, lalu memberikannya untuk rakyat miskin. Jika Robin Hood menyerahkan hasil curiannya tanpa mengharap balas, namun pencuri di gedung DPR itu sangat mengharap foto wajahnya banyak dicoblos pada masa pemilihan berikutnya. Biarlah, dunia memang semakin aneh, seakan samar antara masjid dengan gedung DPR. Orang berbondong-bondong ke gedung DPR menuntut perbaikan kesejahteraan. Sementara di masjid, rumah Allah, suasana begitu sepi dari tangis dan permohonan doa. Seandainya saja ceramah Ustadz Yusuf Mansur tentang “Allah dulu, Allah lagi, Allah terus” didengar seantero negeri, tentulah gedung DPR akan sepi dari demonstrasi, rakyat pun tak perlu lagi memilih anggota DPR. Dengan begitu, gedung DPR pun akan kosong, segala ruang menjadi kosong, sehingga jin dan demit menjadi penghuninya. Jin dan demit menarik perhatian para dukun yang amat terobsesi dengan kesaktian. Jadilah gedung DPR sebagai tempat pertapaan yang teramat menyeramkan. Gedung DPR pun membuat penasaran para pecinta klenik dan mistis macam Tukul Arwana. Keangkeran itu lalu ditayangkan secara eksklusif dalam acara Mister Tukul Jalan-Jalan. Kabar keangkeran gedung DPR kian tersebar. Rakyat pun kembali berbondong-bondong ke gedung DPR mengharap perbaikan nasib. Namun kali ini rakyat berharap pada dedemit agar bermurah hati membantu mereka yang seumur hidupnya tak pernah diperhatikan anggota dewan.  Dulu, didepan anggota dewan, rakyat berorasi dengan berteriak-teriak dan menendangi jeruji pagar. Sebaliknya dihadapan dukun, mereka memohon dengan takzim sambil membawakan sesaji. Semakin jelas nampak, rakyat ternyata lebih menghormati dukun daripada anggota dewan. Sementara itu kesepian tetap melanda masjid. Kalaupun ada orang yang menadahkan tangan, memelas, dan memasang tampang meringis, maka biasanya orang itu bukan berada di dalam masjid, tapi di halaman masjid, merekalah pengemis. Pengemis itu keanehan tersendiri. Mereka mengemis dengan khusyu’ kepada orang-orang yang lalu lalang, namun dirinya sendiri tak pernah mengemis khusyu’ dihadapan Tuhan. Barangkali mereka telah putus asa menanti jawaban Tuhan yang tak kunjung turun.

Dunia ini memang semakin aneh, mungkin pertanda kiamat kian dekat. Kiamat kian dekat seringkali diucapkan. Anehnya, pengucapnya pun tak kunjung mempersiapkan diri menghadapi kiamat. Ia asyik bersabda tentang kiamat, sementara ditangannya terdapat botol bertuliskan Anggur Cap Orang Tua. Luar biasa, orang tua macam apa yang mengajarkan anaknya mabuk-mabukan. Kiamat yang begitu dahsyat dampak kerusakannya ternyata seringkali hanya menjadi bahan gurauan. Sementara kebakaran di Tanah Abang, orang sudah gila sampai meratap-ratap dan menampar-nampar. Di masjid pun sama, sudah biasa terdengar canda-tawa. Tengoklah di gedung DPR, pejabat seperti wakil presiden, menteri, jenderal polisi, bahkan panglima TNI sekalipun tertunduk kaku dan sulit tersenyum. Jelas nampak, para pejabat itu begitu ketakutan dihadapan anggota dewan, sedangkan buruh, mahasiswa, rakyat jelata berani berteriak dan memaki anggota dewan. Siapakah yang pemberani? Pejabat atau rakyat biasa?

Tidak perlu heran jika nyatanya dunia memang aneh. Di negeri ini, konser dangdut, penontonnya akan begitu ramai hingga memenuhi stadion Gelora Bung Karno. Tampaknya wajar, sebab sang pedangdut akan tampil dengan mengenakan pakaian yang didesain seminimalis dan setransparan mungkin. Terlihatlah tonjolan-tonjolan seksi dari tubuh sang pedangdut. Penonton terlihat jelas bernafsu menatap area tonjolan itu, akibatnya mereka pun berjoget sambil menahan laju dongkraknya yang terus naik tanpa sanggup dikendalikan. Sang pedangdut pun demikian fasih mengucap lafaz zikir “Alhamdulillah, Subhanallah, Allahuakbar” bersamaan dengan goyang patah-patah, ngebor, kayang, atau gergaji. Sebenarnya para pedangdut itu lebih layak disebut sebagai tukang gali sumur. Berbeda nasibnya para ustadzah yang berusaha menutup wajahnya karena alasan tuntutan syar’i. Ustadzah seperti mereka itu, acaranya selalu sepi. Sangat jarang orang yang berminat dengan acaranya. Padahal mereka berusaha mengajak orang-orang kembali pada jalan yang benar. Orang-orang malah berlarian dari ajakan mereka, sebab takut dianggap keturunan radikalis bin ekstrimis bin fundamentalis bin teroris! Namun sang ustadzah bercadar tetap bersyukur masih ada satu-dua orang yang mau mendengar petuahnya. Tak jarang kajiannya tanpa dihadiri seorang pun. Acapkali justru cicak, nyamuk, kecoa, tokek, dan laba-laba yang bersemangat sebagai pendengar setianya. Toh, walaupun sepi, ustadzah bercadar tetap ikhlas dan datang kembali mengisi kajian dikesempatan berikutnya. Sang ustadzah rela datang tanpa dibayar. Sementara pedangdut itu, mereka tetap cemberut walau telah menerima honor. Oh, ternyata, pedangdut kurang puas dengan bayaran yang dianggap tak setimpal dengan pengorbannya yang rela habis-habisan mengumbar aurat dan syahwat dikhalayak ramai. Itulah anehnya dunia ini. Ternyata orang-orang lebih senang berada di tengah konser seronok dan dicap maksiat, daripada datang ke masjid walau dicap teroris!

Entah kapan masjid akan kembali masa kejayaannya. Perlu dikembalikan lagi fungsi masjid yang sesungguhnya, sebagaimana diajarkan baginda nabi dulu, yaitu tempat ibadah, musyawarah, dan belajar. Tempo dulu, saat istilah universitas belum dikenal, masjid adalah pusat pendidikan yang melahirkan ilmuwan jempolan. Namun lihatlah sekarang, masjid tak ubahnya hanya sebagai tempat pertaubatan orang-orang yang sedang mengalami penderitaaan. Setelah deritanya dicabut Tuhan, mereka pun tak lagi datang ke masjid. Tentunya yang lebih mengenaskan lagi, sering orang mampir ke masjid hanya untuk buang hajat. Tak perlu heran, beberapa masjid pun sering nampak pasangan bukan mahram berpeluk mesra. Mereka ini, pasangan muda-mudi yang otaknya kembali menjadi otak monyet, tampaknya sudah sulit membedakan antara masjid dengan hotel mesum!

Mungkin, kejayaan masjid akan datang pada masa Imam Mahdi. Saat itu, kaum muslimin berada dalam perlindungan kekhalifahan yang berjalan di atas minhajul nubuwwah, metode nabi. Semoga saja, saat menunggu kedatangan Al-Mahdi, tidak ada umat Islam yang keburu beralih menjadi pengikut Dajjal. Apalagi, jangan sampai ada umat Islam yang justru bercita-cita agar kelak salah seorang keturunannya adalah Dajjal. Lebih tidak pantas lagi kalau ada umat Islam yang berhasrat menjadi pencipta Dajjal. Mari berharap yang baik, semoga kita bisa mati sebelum bertemu Dajjal. Jikalau harus bertemu Dajjal, semoga kita dikuatkan agar tidak terkena fitnah Dajjah. Jika tanda-tanda Dajjal nyatanya belum datang, maka jangan menipu umat dengan menjadi Dajjal palsu. Jangan merepotkan umat, karena segelintir pendusta tengik yang ada di gedung DPR pun sudah sangat menyusahkan. Andaikata engkau bertemu Dajjal, maka jangan dilawan dengan berdusta, sebab yang kau hadapi itu adalah bos besarnya para pendusta.

Seandainya ditengah jalan engkau berpapasan dengan Dajjal, segeralah masuk masjid, jangan ke gedung DPR. Kalau Dajjal membuat hidup kau susah, datanglah ke masjid, usah demo ke gedung DPR. Jika kau begitu mudahnya dikelabui akal busuk anggota dewan, maka Dajjal lebih pandai lagi mengelabuimu. Dajjal takkan gentar dengan gertakan anggota dewan. Tetapi beberapa anggota dewan justru gemetar dengan gertakan penyanyi dangdut. Kalau anggota dewan pandai bersandiwara, maka Dajjal pandai berkonspirasi. Barangkali, jika saja gedung DPR itu selesai direnovasi seluruhnya, maka bisa jadi gedung itu akan menjadi incaran utama Dajjal untuk dijadikan markas besarnya. Bilamana gedung DPR jadi markas besar Dajjal, tiada sanggup anggota dewan melarikan diri kecuali ke toilet, maka direnovasilah bagus-bagus jamban mereka itu. Jika Dajjal berani masuk masjid, maka dia harus bertarung dulu dengan malaikat bila ingin telapak kakinya menyentuh masjid. Namun apabila seumur masjid itu hanya ramai kalau ada acara tahlilan, sementara solat lima waktu kadang ada kadang tidak, jangan harap ada malaikat disitu, barangkali gendoruwo, sundal bolong, dan kuntilanak yang berkeliaran.

Malu kiranya jika masjid kian sepi ditengah kerumunan manusia. Populasi manusia terus bertambah dari waktu ke waktu, selalu suplus, tiada stagnan apalagi defisit. Artinya, jumlah kelahiran selalu lebih banyak daripada kematian. Namun sayang, jama’ah di masjid tak kunjung bertambah walaupun penghuni bumi ini terus meningkat. Ini berarti terdapat korelasi negatif, semakin banyak penduduk, semakin sedikit jama’ah masjid. Bisa jadi tuntutan zaman yang kian sulit menjadikan frekuensi kerja terus bertambah. Namun tiadakah waktu sejenak untuk meluangkan waktu memakmurkan masjid walau hanya solat lima waktu. Nikmat nian kita saling kenal, berjabat erat, berpeluk kuat setelah solat jama’ah di masjid. Ukhuwah terjalin dan ikatan iman terajut karena sepanjang waktu perjumpaan diawali dan diakhiri dengan salam di tempat yang penuh berkah. Dari masjid, kita menabur benih-benih cinta yang senantiasa tumbuh di dalam kalbu. Tatkala cinta itu tumbuh besar dan mengakar kuat, dimanapun kita berada, cinta itu takkan goyah meski diterjang badai. Musnahlah segala bentuk prasangka buruk, kedengkian, ataupun dendam, karena rasa cinta yang begitu tulus dan kokoh. Bilamana kebangkitan ukhuwah itu bermula, tentu semuanya berawal dari solat jama’ah di masjid.

Cerita Kampung Cengkehku

Jika kalian melihat peta Indonesia, maka tengoklah sejenak nama yang tertera diujung selatan Pulau Sumatera. Dibagian paling bawah pulau itu, tentu akan tampak sebuah nama yang sangat elegan, yaitu Lampung. Elegan bukan, Lampung, sungguh elegan sekali nama itu. Tahukah kalian makna dari Lampung itu? Ah, tentu kalian takkan tahu. Aku nasihatkan pada kalian, setidaknya, carilah makna kata itu diinternet. Aku sebenarnya ingin sekali memberi tahu kalian makna dari nama yang mempesona itu. Namun sayang kawan, aku pun tak tahu.

Jika kalian bisa menyebutkan nama “Lampung” dan tahu letaknya di pulau apa, apalagi kalian berasal dari pelosok hutan perawan Papua, tentulah aku akan menangis sejadi-jadinya. Pastilah aku terharu jika ada orang dipelosok Papua sana tahu nama dan letak Provinsi Lampung. Kenapa begitu? Begini ceritanya, dulu aku punya kawan yang tinggal di ibukota sebuah provinsi di Jawa. Ingat! Tinggal di ibukota di sebuah provinsi dipulau Jawa! Dia bilang, Lampung ada di Kalimantan! Alamak….Sejelek-jelek sekolah di ibukota di Jawa, tentu tak ada gedung sekolahnya yang bakal roboh kalau ditiup kentut ayam. Maksudku, tentulah bagus standar kualitas sekolah di ibukota di Jawa itu. Tapi kawanku ini, pulau tempat tinggalnya yang hanya dibelah selat yang tak seberapa lebarnya, pun tak tahu pula letak Provinsi Lampung. Sungguh mengenaskan wawasan dia itu.

Jika matamu telah tertuju pada peta Lampung, kusarankan agar kalian fokus pada sebuah titik yang berada ditengah peta. Nah, aku yakin, kalian akan menemukan sebuah nama Bandar Lampung. Iya kan? Kalian sudah lihat nama itu? Menakjubkan nama itu. Kawan, cobalah terawang peta itu. Kalian pasti akan menemukan sebuah jalan yang bernama Cengkeh. Hah? Kalian tak juga menemukannya? Cobalah terawang petamu dibawah sinar matahari pukul 12 siang, semoga kalian bisa melihat nama jalan itu. Apa? Tak juga kalian dapatkan? Bantu penglihatanmu dengan kaca pembesar, mikroskop atau teleskop. Sungguh? Tak juga kalian temukan? Sudahlah, memang kalian takkan menemukan nama itu jika kalian mencarinya di peta nasional. Lain kali, belilah khusus peta Lampung. Biar kalian tahu, kalau di Indonesia ada Provinsi yang bernama Lampung, bukan Provinsi Mesuji!

Bangga sekali aku punya nama kampung yang bernama Cengkeh ini. Di sekitar kampungku ini, setiap nama jalan adalah sejenis rempah-rempah. Timur kampungku berbatasan dengan Jalan Cempedak. Timur Cempedak berbatasan dengan Kedelai. Sementara Barat Kampungku berbatasan dengan Jalan Lada, Timur Lada berbatasan dengan Kopi. Sedangkan Selatan berbatasan dengan wilayah yang dikenal sebagai Putak. Perlu diketahui, Putak adalah singkatan dari pucuk tangkil (nama lain pohon melinjo). Di Selatan kampungku itu memang dikenal banyak terdapat pohon tangkil (melinjo). Kemudian sebelah Utara, nah ini, wilayah yang nyaris tak kukenal rimbanya. Seumur hidupku, wilayah Utara kampung ini adalah misteri. Bukan karena banyak cerita klenik, namun memang aku merasa enggan untuk kesana, dan aku pun tak peduli. Itulah sebabnya, aku bingung berbatasan dengan wilayah apa Utara kampungku ini.

Barangkali, dulu kampungku ini pernah disinggahi pelancong dari Portugis atau Spanyol untuk berbelanja rempah-rempah guna selanjutnya dibawa ke Eropa. Atau mungkin, kampungku ini adalah rangkaian perlintasan jalur sutra yang menjadi sumber utama para pedagang untuk mendapatkan rempah-rempah. Aku tak terkira bangganya, jika tempo doeloe masakan-masakan di Eropa dan Asia racikan bumbunya berasal dari rempah-rempah dari kampungku ini. Bisa jadi, dahulu kampungku ini menjadi arena pertempuran antara Portugis dan Spanyol untuk menguasai sumber rempah-rempah. Besar kemungkinan, cengkeh dari kampungku ini, menjadi bahan utama campuran pembuatan rokok dipabrik-pabrik rokok Eropa. Maka para penguasa terkemuka tempo dulu, turut merasakan cita rasa cengkeh kampungku. Aku pun sedih tak terkira, jika ternyata pendahulu di kampungku ini dijadikan buruh kebun untuk menghasilkan rempah-rempah yang berlimpah. Lebih miris lagi, seandainya kepemilikan kebun para pendahuluku, diambil paksa oleh para kompeni, setelah itu mereka disiksa, dan dijadikan budak. Meskipun begitu, ada kemungkinan di kampungku ini pernah berdiri kerajaan besar dan kaya, karena menguasai pasar rempah-rempah dunia. Tentu pikiran gilaku ini usah kalian hiraukan. Aku takut kalian ikut terkena pengaruh imajinasi gila, efek dari menganggur terlalu lama.

Kampung Cengkeh, tanah tempatku lahir, besar, serta tinggal ini, sungguh sedap dipandang dan nyaman dihati. Tempo dulu aku kecil, saat masih sering keluar ingus dari hidungku, kampungku banyak terdapat kebun-kebun rakyat. Jadilah banyak macam tanaman yang tumbuh subur. Ada rambutan, kelapa, sengon, mangga, cengkeh, kapas, jambu, jagung, melinjo, cabai, petai, jengkol, durian, nangka, cempedak, kedondong, banyak lagi lah. Maka jangan heran, di kampungku ini, banyak pula rupa burung-burung elok yang singgah, bahkan beranak pinak disini. Tiap pagi, tentu bagi penghuni kampungku yang selepas subuh tak tidur lagi, pastilah telinganya akan dimanjakan lantunan merdu dari paduan kicau burung-burung yang mulai sibuk mencari nafkah. Belum lagi, banyak pula serangga, macam kupu-kupu, capung, lebah, sampai nyamuk dan kecoa pun turut menetap. Adalagi, ikut meramaikan pula kucing dan anjing. Jika di siang hari suara bising keluar dari mulut kucing yang bertengkar karena berebut betina atau makanan, maka di malam hari lolongan anjing memecah malam sehingga memaksa warga kampung mengambil batu dan melemparkannya ke kawanan anjing-anjing itu. Tak lupa manusia itu sambil mencaci maki makhluk bermoncong itu dengan nama hewan itu sendiri. Anjing pun bingung, sudah dilempar batu, namun nama mereka sering dielu-elukan manusia hingga berteriak memekakkan telinga. Kebingungan itupun bertambah, karena pada suatu waktu, ketika nama mereka diucapkan, maka sekelompok manusia mukanya menjadi merah, lalu terjadilah baku hantam. Tanda tanya, apa yang salah dengan nama mereka.

Namun cerita indah tentang pesona ekosistem kampungku tampaknya tinggal kenangan. Kampungku yang dulu asri, kini pun terkena getah arus modernisasi. Ratusan pohon sengon yang dulu rindang, telah ditebang berganti rumah megah. Berbaris rapi pohon tangkil (melinjo) yang dulu tampak angker, ditebang satu per satu dan berdiri disitu sekolah berstandar internasional. Lebatnya kebun rambutan, yang tampak berwarna-warni disaat berbuah, semakin sedikit keberadaannya seiring pesatnya tempat pemukiman baru. Hebatnya lagi, ah, tepatnya dahsyatnya, kuburan pun mulai terdesak. Dulu orang segan tinggal didekat kuburan, entah karena takut atau hormat pada penghuninya, kini mereka tak peduli. Ada dikampungku, kuburan berada di dalam pekarangan rumahnya! Hebat luar biasa. Itulah kawan, serakahnya orang yang masih bernyawa. Tempat tinggal orang mati, ukurannya pun hanya 2x1 meter, masih harus didesak-desak lagi, bahkan acapkali digusur. Kemudian yang paling menjengkelkan pemuda kampung kami, bayangkan, kebon jengkol pun tak lepas dari tangan serakah yang bernama manusia! Kebun jengkol yang dulu rimbun lagi menyeramkan, kini berubah wujud menjadi kompleks kos-kosan putri yang para penghuninya berkelakuan sangat membosankan. Angkuh sekali mereka. Sekian tahun mereka menetap, kami para pemuda penghuni kampung, tak ada yang dikenalnya! Jangankan berkenalan, bertemu dijalan pun tak bertegur sapa atau saling mengucapkan salam. Dasar tak tahu wasiat nabi!

Kampungku yang dulu asri dengan rupa-rupa tanaman, kini beralih menjadi berupa-rupa model beton. Pagi tiada lagi kicauan burung, yang ada seringkali dentuman musik cadas Barat yang disetel bocah labil lagi sinting, aku pun yakin dia tak paham sang vokalis mengoceh tentang apa. Tak ada lagi warna-warni buah rambutan dan buah melinjo, yang ada sekarang hanyalah warna-warni jemuran pakaian yang sungguh sungkan aku sebutkan bentuk rupanya. Bahayanya, ketika musim kemarau, mata air sumur kami pun tak lagi mengalir selancar dulu. Sungguh tega, suburnya tanaman beton telah merampas salah satu sumber penghidupan kampungku, yaitu air!

Meskipun suasana alam tidak lagi seindah dulu, setidaknya, hati orang-orang di kampungku  masih diliputi kesejukan. Sebuah puji syukur pada Ilahi, tiada terjadi pertikaian, bentrokan, maupun pertengkaran. Hubungan antar tetangga berjalan harmonis. Kalaupun ada sengketa, bisa diselesaikan secara kekeluargaan. Setiap perselisihan diselesaikan dengan dialog, daripada mengacungkan golok.

Puji syukur, tiada cerita kasus Mesuji yang heboh itu menimpa kampung kami. Walaupun dulu, sekali lagi dulu, aku seringkali melihat sekelompok orang di kampungku berkelahi. Setelah bergulat tak puas, mereka pun lantas pulang. Pulang bukan berarti berdamai, tapi kemudian masing-masing pihak bertikai memanggil “pasukan tambahan” sembari golok ditangannya untuk melakukan adegan perkelahian ulang. Ah, hanya gejolak muda. Sekali lagi puji syukur, tak ada nyawa yang melayang, mungkin hanya muka benjut, mata biru, bibir pecah, gigi lepas, atau kepala berdarah, hanya itu. Seburuk-buruknya dampak perkelahian kala itu hanya menginap beberapa hari di rumah sakit, ditambah beberapa minggu di rumah, lalu mereka sembuh dan siap berkelahi lagi. Namun seiring para pemuda itu telah beristri lalu beranak, maka jadilah perkelahian massal tak lagi terjadi dijalanan kampung ini. Aku beramsumsi, kini mereka sibuk menyalurkan gejolak muda mereka di rumahnya masing-masing. Inilah dahsyatnya menikah massal, bisa menghilangkan kebiasaan tawuran!

Kini, sekarang, saat ini, tapak kakiku kokoh berdiri di atas tanah kelahiranku tercinta ini. Junjungan Nabi Muhammad pun senantiasa merindukan tanah kelahirannya, Mekah. Setelah lima tahun berkelana di negeri seberang, memang sudah saatnya aku untuk kembali ke kampung halaman. Dengan membawa status baru sebagai ‘pengangguran intelektual’, tentu sebutan untuk menghibur dini; okelah jujur saja ‘pengangguran terlunta-lunta’, kini aku ingin sejenak bernostalgia merenungi kembali masa-masa indah di kampung ini. Dulu aku berat untuk merantau karena akan meninggalkan kampung ini. Namun setelah sekian lama di negeri seberang, justru kakiku berat untuk kembali ke kampungku ini. Mungkin perlulah kiranya diriku mulai membangun ikatan cinta pada kampungku ini. Namun keputusan untuk kembali ke kampung ini jelas bukan berdasar atas keterpaksaan, tetapi lebih pada tanggung jawab untuk mengangkat kampung ini agar lebih bermartabat. Aku lahir, besar, dan tinggal di kampung Cengkeh ini, maka keinginanku kian menggebu untuk memberikan kontribusi, baik tenaga, pikiran, kalau perlu nyawa. Meskipun kalian tahu siapa aku, detik ini semangat menggebu, lima detik kemudian terkantuk lalu terkapar di atas tempat tidur. 

Keabadian Buah Pemikiran

Hal apakah yang tidak bisa dikurung, bahkan dengan jeruji baja sekalipun? Maka jawaban yang layak adalah akal, alias pemikiran. Jika jasad si pemilik otak terkurung dalam jeruji besi, maka pemikirannya bisa menembus rapatnya pertahanan jeruji besi itu. Ibnu Taimiyah, tokoh intelektual Islam terkemuka, berulang kali keluar masuk penjara. Beliau keluar masuk penjara bukanlah karena kasus kriminal remeh temeh macam maling ayam atau mencuri sandal jepit. Ibnu Taimiyah dijebloskan ke penjara karena ulah konspirasi musuh-musuhnya yang selalu merasa terusik kepentingannya karena keberadaan Ibnu Taimiyah. Tapi apalah daya, jasad memang terpenjara, namun pemikiran cemerlang Ibnu Taimiyah memiliki daya magnet yang menarik para pecinta ilmu untuk datang menghampirinya. Dikala Ibnu Taimiyah terpenjara, maka para pencari ilmu pun tetap berdatangan ke penjaranya guna mendapat pencerahan dari sang ulama. Ternyata penjara tak mampu menahan laju pemikiran cemerlang.

Kematian pun bukan pertanda lenyapnya pemikiran seorang intelektual. Gugurnya mujahid, Sayyid Qutb, justru kian membangkitkan semangat pergerakan para pemuda Islam. Pemikiran Sayyid Qutb tetap mampu menerobos tabir alam barzakh, tak turut terpendam di alam kubur. Melalui karya-karya monumentalnya, kita yang hidup di atas bumi ini, saat inipun masih tetap bisa mengkaji setiap nasihat, pemikiran, dan cita-cita Sayyid Qutb. Begitu pun para imam seperti Imam Bukhari dan Imam Muslim, hingga hari ini namanya selalu disebut-sebut dalam setiap majelis-majelis hadits. Pemikiran cemerlang, buah karya fenomenal, takkan usang termakan usia.

Alangkah indahnya jika nama kita tetap teringat sebagai sosok yang mulia hingga bertahun-tahun, atau bahkan berabad-abad kemudian. Jasad kita memang terbujur kaku di liang lahad, namun buah pemikiran kita tetap dikenang dan dikaji secara turun-temurun oleh berbagai generasi. Tak terkira banyaknya orang-orang yang berusaha mengungkap karya-karya agung Imam Syafi’i. Barangkali puluhan, ratusan, atau ribuan penelitian sekelas disertasi terinspirasi dari buah pemikiran besar sang imam. Itupun, buah pemikirannya masih akan terus menjadi inspirasi yang melahirkan puluhan hingga ribuan disertasi berikutnya. Begitu dalamnya dan luasnya buah pemikiran Imam Syafi’i, hidup berabad silam, namun harum namanya tetap tercium hingga detik ini.

Tentu semua orang ingin namanya dikenang hingga melintas batas masa. Dikenang sebagai sumber inspirasi kebaikan bagi kebajikan umat manusia. Tiada yang mau namanya redup seiring jasadnya yang tak lagi bernyawa. Tiadalah yang suka namanya mati bersamaan dengan jasad yang terkubur. Tiadalah rela namanya dilupakan seiring jasad yang termakan waktu. Hanya dengan buah karya nyata, maka nama itu akan terpancang kokoh dalam ingatan manusia. Derasnya arus waktu memang dengan sendirinya akan menghanyutkan karya-karya yang bernilai biasa-biasa saja. Kadar kualitas buah pemikiran, tentu bukan sekedar atas dasar kemampuan akal semata, namun harus beriringan dengan hati yang senantiasa dihiasi keikhlasan. Mana karyamu?

Kepahlawanan

Keputusan hidup seringkali dihadapkan pada pilihan-pilihan sulit yang selalu ada konsekuensi tersembunyi dibaliknya. Setiap keputusan yang diambil, terdapat ancaman resiko-baik besar maupun kecil, bagi kelangsungan hidup kita kedepannya. Hidup hanya satu kali, menjadi pecundang atau pahlawan, merupakan pilihan yang kita sendirilah yang memutuskannya. Pahlawan muncul karena ia memberanikan dirinya menghadapi rintangan yang terjal, badai cobaan, dan jalan yang berliku. Kesulitan demi kesulitan dihadapinya tanpa mengenal kata mundur. Ketakutan dan keputusasaan merupakan musuh yang selalu mengintainya ditiap menjalani langkah perjuangan. Perihnya derita tak pernah dirasa seiring janji kemuliaan yang akan diraih. Kemuliaan seakan menanti datangnya pahlawan yang telah gigih berjuang menghadapi kerasnya badai kehidupan.

Tertawa dalam derita, senyum saat susah menerpa, merupakan tabiat sejati seorang pahlawan.  Pahlawan memang tercipta dari hati yang terperisai baja, sehingga hantaman cobaan sekeras apapun tidak akan menjadikan kakinya melangkah kebelakang. Walaupun selama hidupnya selalu terpayungi duka, namun tak sepatah katapun keluh keluar dari lisannya. Hatinya enggan menjerit perih, wajahnya pun malu memelas kasih, tiada berharap uluran tangan manusia, karena baginya sudahlah cukup karunia dan pertolongan Tuhan yang Kuasa. Pahlawan tak pernah takut pada caci maki manusia, tak pula gembira dengan pujian mereka. Bertekuk lutut dihadapan manusia, sama saja membuat goresan luka pada bilik jantung kehormatannya.

Sosok pahlawan selalu menunjukkan hasil kerja yang konkrit, bukan sekedar buah pikiran yang berwujud wacana. Bagi pahlawan, selangkah menapaki jalan terjal, lebih baik daripada hanya berangan-angan berdiri di atas awan. Dunia bukanlah negeri khayalan yang di dalamnya penuh dengan keindahan dan kenikmatan. Dunia adalah alam nyata, realitas kehidupan yang keras yang mesti ditaklukan oleh rasio yang cerdas, namun tanpa harus mematikan hati yang tertanam dilubuk sanubari. Pahlawan tidak akan menyesali keberadaannya di dunia ini, karena dunia adalah takdir yang telah ditetapkan Tuhan untuk dihadapi, bukan untuk ditangisi. Menangisi takdir adalah sikap yang muncul dari para pecundang, mereka hanya bisa mencela Tuhan, lalu berusaha lari dari kenyataan dengan menyegerakan kematian. Pahlawan selalu teguh menghadapi kerasnya kehidupan, pantang berbalik dikala perang berkecamuk. Kehidupan takkan luput dari selimut kegelapan, namun berhentilah mencela kegelapan, dan mulai nyalakan api (Anis Baswedan).

Cerita Cinta

Cinta, tak diketahui letaknya di dalam diri, abstrak, tak sanggup teraba, mengambang dalam imajinasi, bergejolak seiring suasana hati. Namun mengapa, jika cinta terluka, maka tubuh seolah tersayat, luka, kemudian menjadi lemah, air mata pun mengalir, kaki seakan tak sanggup melangkah, bibir sekejap bisu, lisan seakan kaku. Tetapi, dibalik tabir cinta, ternyata memendam berjuta energi. Energi yang sanggup menjadikan seseorang bertahan ditengah guncangan cobaan, kokoh dikala terhempas musibah. Cinta, misteri yang tak pernah terungkap seutuhnya oleh logika, karena memang ia hanya bisa dirasa oleh jiwa, bukan dengan akal.

Cinta memang tak akan terjamah oleh logika, logika pun tak mampu menyelami dalamnya makna cinta. Tetapi cinta, ia sanggup menguasai logika, menenggelamkannya, mempermainkannya, dan menjadikannya gila. Lalu dengan apa kita mampu memahami cinta? Dengan perasaankah? Perasaan pun labil, ia bukanlah pondasi yang kokoh. Cinta penuh dengan konsekuensi yang menyakitkan, pengorbanan yang mungkin tak berbalas, dan kesetiaan yang bisa saja terkhianati. Perasaan mungkin tak mampu memikul beban itu, sebab jika ia tersakiti sedikit saja, maka seketika itu pula cinta akan hilang tak berbekas. Berarti, perasaan pun tak sanggup memahami cinta.

Betapa banyak manusia yang gila karena cinta, tersiksa hidupnya, sakit, bahkan mati karena cinta. Kisah cinta seringkali meninggalkan tragedi. Cleopatra rela bunuh diri demi menjemput arwah Mark Antony. Cinta Romeo diliputi keputusasaan, kemudian bunuh diri tatkala ditinggal mati Juliet. Qois hanya sanggup merintih sedih, menangis, gila, akhirnya pun mati, seiring cinta Laila yang tak pernah mampu ia raih.

Cinta bukan sekedar retorika, bukan pula sekedar rangkaian manis dalam alunan puitis. Indahnya syair dan merdunya lantunan melodi sekalipun, takkan mampu menyingkap tabir keindahan cinta yang hakiki. Cinta butuh pengorbanan untuk menggapainya, dan akan lelah menjaganya. Pengorbanan yang tak mengharap balas, lelah yang tak mengenal keluh, teguh walau tersakiti, sabar tatkala menanti, itulah konsekuensi cinta. Mungkin perlu introspeksi pada masing-masing diri kita, seberapa besarkah pengorbanan yang telah kita berikan kepada orang-orang tercinta. Sebab, dengan tetes keringat dan darah pengorbanan itulah, kita akan melukiskan kisah cinta yang selama ini telah terjalani.

Menguak Drama Kehidupan

Waktu terus berlalu seiring bergantinya siang dan malam. Detik berganti menit. Menit berganti jam. Jam berganti hari. Hari berganti minggu. Minggu berganti bulan. Bulan berganti tahun. Tak terasa perjalanan waktu yang demikian panjang telah terlewati. Drama realita ini dengan berbagai adegan suka maupun duka telah menjadi bagian dari proses dinamika kehidupan. Hidup tak selamanya sedih, sebagaimana hidup tak selamanya tersenyum. Selalu ada kebahagiaan setelah datangnya cobaan, sebagaimana selalu ada tangisan diakhir canda tawa. Setiap saat kita selalu dihadapkan pada jalan cerita kehidupan yang selalu berbeda-beda. Adakala hidup itu dihiasi kebahagiaan, adakalanya pula hidup itu diwarnai dengan kesedihan. Hidup memang tak ubahnya drama realita yang jalan ceritanya senantiasa mengikuti skenario Tuhan. Dia telah memilih kita untuk memerankan tiap episode kehidupan di atas panggung dunia ini dengan alur dan akhir cerita yang tak pernah bisa diprediksi.

Hikmah dalam tiap penggalan kisah adalah bagian dari proses metamorphosis kita menuju kesempurnaan hidup. Berbagai deraan hidup seharusnya menjadikan manusia kian tegar menghadapi cobaan. Kita dapat merasakan manis karena kita pernah merasakan hal yang pahit. Kita dapat merasakan nikmatnya sehat karena kita pernah merasakan sakit. Hidup akan mencapai batas kesempurnaan ketika kita mampu memaknai sekaligus menikmati perihnya kehidupan yang telah kita jalani. Tatkala air mata tak lagi mengalir disaat duka menerpa, maka kita adalah pedang tajam yang mampu mengiris setiap kesedihan. Seorang panglima tempur akan bangga dengan keberadaan pedang tajam disisinya. Tak hanya dibanggakan, tapi ia juga diperlakukan istimewa dan ditempatkan pada kedudukan yang mulia. Tentu besi itu dulunya merasakan tempaan godam baja ratusan atau bahkan ribuan kali dalam api yang panas membara, hingga akhirnya besi itu menjelma menjadi sebilah pedang tajam yang disegani lawan dalam tiap laga peperangan.

Itulah sosok manusia sabar, ia disegani kawan maupun lawan. Sosok manusia sabar selalu menghadapi cobaan hidup dengan penuh senyuman, syukur, dan keridhoan. Tuhan pun bangga padanya, karena ia ridho dengan skenario Tuhannya. Kelak, diakhir cerita, biasanya sosok manusia sabar akan diperlakukan mulia oleh Tuhan di alam keabadian. Disana Tuhan memerintahkan dara-dara ayu jelita nan penuh pesona untuk melayaninya. Puncak kenikmatan ia rasakan tatkala matanya terpana menatap wajah Tuhannya. Syukur seperti apalagi yang mesti ia ungkapkan atas segala nikmat yang telah ia rasakan. Kesabaran memang sebuah penggalan cerita yang berisikan kisah penuh derita. Namun dibalik derita itu, sesungguhnya ada kebahagiaan yang sedang menanti kehadiran kita setiap saat. 

PUNK

Punk memang dikenal oleh masyarakat sebagai kelompok berandal, kumpulan anak-anak nakal, dan berpenampilan eksentrik. Namun setelah ku baca penelitian tersebut, ada hal yang menarik dari filosofi yang melatarbelakangi lahirnya kelompok punk. Kelompok punk awal mulanya berasal dari kumpulan buruh atau pekerja bawahan di Inggris. Kemunculan punk disebabkan kemerosotan ekonomi dan politik yang disebabkan oleh kerusakan moral para elit politik. Krisis ekonomi tersebut mengakibatkan maraknya pengangguran dan kriminalitas yang tak terkendali. Punk kemudian menyindir para elit dan penguasa melalui lagu-lagu dengan lirik yang kritis disertai irama yang keras dan menghentak. Grup band punk yang amat populer dan dianggap sebagai perintis lagu beraliran punk diantaranya adalah sex pistols. Selain gaya musik punk yang terdengar keras, lirik-liriknya pun biasanya menggambarkan bentuk perlawanan dan perwujudan dari rasa frustasi, emosi, dan kemarahan terhadap elit atau penguasa.

Punk memang dianggap sebagai simbol perlawanan terhadap kapitalisme, anti kemapanan, independensi, menjunjung kebebasan, dan anarkisme. Anarkisme menurut pemahaman punk bukanlah bermakna kekerasan seperti yang selama ini dimengerti oleh masyarakat pada umumnya. Anarkisme adalah bentuk ideologi yang menghendaki masyarakat tanpa Negara, terbebas dari sekat-sekat yang membatasi gerak, ekspresi dan pemikiran. Ideologi anarki tersebut muncul akibat anggapan bahwa Negara merupakan simbol penindasan yang diotaki para diktator. Selain sebagai bentuk ideologi politik, anarki juga dimaknai sebagai bentuk kebebasan dan kemerdekaan dari norma-norma masyarakat. 

Menurutku, ada hal yang unik pada filosofi kelompok punk yaitu kata-kata yang dikenal sebagai Do it Your Self. Kata-kata tersebut merupakan wujud dari pergolakan kelompok punk yang ingin hidupnya merdeka tanpa harus ketergantungan dengan orang lain. Lakukanlah sendiri, karena kita memang bisa, dan jangan mudah tergantung dengan orang lain, mungkin kira-kira begitu maknanya. Kesannya, memang seolah kata-kata tersebut menggambarkan individualisme. Namun menurutku, kata-kata tersebut mengandung makna yang mendalam. Kita selama ini seringkali menggantungkan harapan pada orang lain, bahkan seringkali menuntut orang lain berbuat untuk kita. Hal tersebut membuat kita menjadi malas, serta kurang memaksimalkan potensi yang kita miliki. Kata-kata “do it your self” sebenarnya mendorong kita untuk bekerja keras, selalu berpikir, memaksimalkan kemampuan, dan memaksa kita keluar dari zona aman. Berada di zona aman memang memberi kita kedamaian dan kenyamanan. Namun jika kita berusaha tidak keluar dari zona aman, hal itu tidak disadari akan membuat kita semakin terperangkap pada kehidupan yang statis, kehilangan inovasi, dan anti perubahan. Oleh sebabnya, punk dikenal sebagai kelompok yang anti kemapanan. Munculnya studio indie dan distro merupakan salah satu wujud perlawanan punk terhadap kelompok yang mapan. Kelompok mapan yang dimaksud adalah perusahaan-perusahaan kapitalis yang telah memiliki nama besar seperti sony music, warner music, levi’s, nike, atau adidas.

Sangat menarik memang mengenal sosok punk yang memang selama ini dikenal sebagai kelompok radikal. Disebut radikal karena pada awal kemunculannya di Inggris, pemerintahan Inggris melakukan pengawasan yang ketat karena dikhawatirkan sepak terjang punk akan mengganggu stabilitas keamanan dan politik. Di Indonesia pun, kelompok ini pada zaman orde baru tak lepas dari pengawasan yang juga ketat dari pemerintah. Terlepas dari kontroversi kehadiran kelompok punk, filosofi “do it your self” menjadi sebuah petuah yang perlu direnungkan. Betapa Negara Indonesia ini tak kunjung maju karena ketergantungannya terhadap Negara lain. Padahal Negara kita kaya luar biasa. Jika SDM yang kurang, itu pun bisa diakali dengan cara meningkatkan mutu pendidikan dan memberi beasiswa pada orang-orang yang berprestasi untuk belajar ke luar negeri kemudian mengembangkan ilmunya di negeri sendiri. Jika petuah “do it your self” terinternalisasi dalam seluruh masyarakat Indonesia, maka bisa jadi peradaban tidak lagi di Eropa, Amerika, Jepang, Cina ataupun Korea, akan tetapi peradaban itu ada di Indonesia. Siapa yang mengira Eropa yang dulu luluh lantak akibat perang dunia I dan II kini menjadi pusat ilmu pengetahuan dunia. Siapa sangka Jepang yang dulu di bom nuklir hingga hancur lebur kini menjadi salah satu pusat perekonomian dunia. Dan tak diduga, Korea Selatan yang dulu diinjak-injak Jepang dan terlibat konflik perang saudara, kini menjadi Negara macan Asia. Hal itu tentu dari keyakinan, bahwa yang mampu mengubah keadaan mereka adalah mereka sendiri, bukan orang lain, do it your self. 

Namun kita, setelah sekian lama terjajah oleh Portugis, Spanyol, Belanda, hingga Jepang kemudian merdeka pada 17 Agustus 1945, belenggu-belenggu penjajahan itu pun masih terasa hingga kini. Di ASEAN, kita tak lebih baik dari Singapura, Malaysia, maupun Thailand. Vietnam pun terus mengejar ketertinggalannya. Siapa sangka, Negara yang dulu berhaluan komunis dan diserang habis-habisan oleh Amerika, kini sedikit-demi sedikit mulai menunjukkan taringnya dalam perhelatan perekonomian ASEAN. 


Kemandirian memang sangat penting dalam memperkokoh eksistensi diri. Kemandirian berarti kehormatan, sedangkan ketergantungan berarti suatu kehinaan. Memang kebanyakan dari penganut ideologi punk hidup dalam strata kehidupan yang miskin, akrab dengan kerasnya hidup di jalanan, dan terintimidasi oleh pengucilan masyarakat. Namun mereka eksis dengan tetap bekerja dan enggan menadahkan tangannya dihadapan manusia demi sesuap nasi. Ketergantungan berarti menghadapkan diri pada kehinaan dan harga diri yang terinjak-injak. Kemandirian adalah suatu keniscayaan karena manusia dibekali dengan kemampuan yang luar biasa. Temukan dirimu, Do it your self!

Pandanglah Ke Depan, Usah Tengok Ke Belakang

Kita seringkali menyalahkan sejarah atas kegagalan yang kita alami disaat ini. Padahal diri kita adalah bagian dari sejarah, sehingga sedikit atau banyak, kita pun berperan dalam menciptakan sejarah itu sendiri. Itu berarti, tak elok jika setiap kegagalan selalu dikembalikan pada sejarah. Tentu, karena kita sendiri yang ikut berpartisipasi dalam pembentukan sejarah. Maka bila dicermati, inti dari kegagalan yang kita hadapi, disebabkan pula oleh diri kita sendiri. 

Hanya terpaku pada situasi masa silam akan menjadikan kita sebagai manusia stagnan. Kita hanya menjadi makhluk pesimis yang tak mampu membangun visi. Kehidupan tanpa visi akan menghalangi kita dari perubahan sikap dan pola pikir yang seharusnya selalu berkembang seiring kemajuan zaman. Kita tidak bisa hanya merenung sambil menyalahi kegagalan hidup kita di masa lampau, sebab terus menerus menyalahkan masa lampau tidak akan pernah memperbaiki situasi yang telah terlanjur terjadi.

Kisah masa lampau senantiasa menghidupkan kembali nostalgia yang mungkin telah lama terpendam. Tak dipungkiri bahwa peristiwa masa lampau selalu meninggalkan noktah yang akan berpengaruh pada perilaku, persepsi, dan karakter kita dimasa kini. Seringkali pula, kisah masa lampau meninggalkan trauma yang begitu mendalam hingga kita tak ingin lagi ia muncul dalam memori kenangan kita. Kisah masa lampau memang acapkali mengungkap masa-masa bahagia, namun tak jarang yang memendam kisah-kisah pilu yang berujung duka. Mozaik-mozaik kisah lampau memang merupakan rangkaian dari sejarah yang membentuk kepribadian seseorang. Ia menjadi pondasi bagi terbentuknya pengalaman-pengalaman yang berharga bagi seseorang ketika akan menginjakkan langkahnya ke masa depan. Akan tetapi, manusia tentunya tidaklah bijak apabila ia hanya terpaku pada pengalaman masa silamnya. Masa depan merupakan dimensi waktu yang penuh misteri, sebab pasti akan terjadi peristiwa yang serba tak terduga. Oleh karenanya, problema di masa depan membutuhkan solusi yang tak sama dengan masa silam, sehingga perlu adanya inovasi dan visi yang cemerlang dalam tiap diri seseorang. 

Nostalgia

Menguak kisah indah yang terjadi di masa silam memang kerap memberi kebahagiaan kepada jiwa kita. Masa-masa yang telah terlewati, mungkin tidak akan terjadi untuk kedua kali. Kita seringkali termenung dalam lamunan untuk merasakan kembali nostalgia-nostalgia itu. Indah, memang terasa indah mengail kembali kenangan dimasa silam. Akan tetapi, masa silam tetaplah sejarah. Sejarah selalu saja terlewati oleh masa. Mengapa kita harus memaksa waktu untuk kembali ke masa lalu, padahal masa depan telah menanti kita dengan tantangan hidup yang tak disangka-sangka. Mampukah diri kita menghadapi masa depan, jika kita selalu bernostalgia dengan masa silam. 

Seberapa pun buruk masa silam kita, akan selalu ada secercah cahaya menanti didepan arah kita. Keputusasaan hanyalah penghalang yang akan menghentikan kita menuju arah perubahan yang lebih baik. Begitupun dengan keterlenaan, hanya melalaikan kita pada angan-angan panjang. Kehidupan memang terkadang menciptakan kisah yang paradoks dalam rangkaian waktu. Tak disangka, masa lalu yang kelam membuahkan akhir jalan hidup yang justru cemerlang, hingga berujung pada kenikmatan surga. Itulah kisah paradoks dalam rangkaian waktu Umar bin Khattab. Dimasa jahiliyah, Umar dikenal dengan manusia bengis yang rela mengubur anak perempuannya hidup-hidup karena rasa malu yang mengendap begitu dalam, akibat tradisi jahiliyah yang mendudukkan anak wanita pada posisi yang tidak bermartabat. Namun masa depan memang penuh dengan misteri, Islam telah mengubah kehidupan Umar hingga menjadikannya termasuk dalam sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang terbaik. Maka kemudian terjadilah dalam kehidupan Umar rangkaian amal taubat, amal soleh, jihad, dan keadilan yang selalu menyertai kehidupannya sehari-hari sampai akhir hayatnya. Ternyata kebaikan Umar setelah dirinya masuk Islam, menutupi aib-aib yang ia kerjakan dimasa Jahiliyah. Allah pun meridhainya, begitu pun Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan Allah pun membalas perjuangan Umar dengan kepastian berupa kenikmatan yang sempurna baginya kelak, surga. 

Sejarah, kenangan masa lalu mungkin akan selalu lekat dalam memori sepanjang hayat kita. Kelam atau cemerlangnya masa lalu, akan selalu membekas dalam diri kita. Seringkali optimisme memang akan tumbuh menjulang dalam jiwa jika kita selalu berkaca pada melimpahnya pengalaman kita. Sebaliknya, kita akan merasa pesimis menatap masa depan jika kita menengok kebelakang, keadaan yang penuh kegagalan. Kesuksesan memang membawa angin segar, sedangkan kegagalan memberikan kesedihan yang mengoyak perasaan. Namun bukankah kita harus selalu bijak dalam menyikapi keadaan. Keadaan akan selalu berubah seiring perkembangan zaman. 

Bukanlah suatu jaminan masa depan kita akan berbanding lurus dengan masa silam kita. Hidup kita adalah sekarang, didetik ini, dan saat ini. Masa depan menanti kita dengan situasi dan kondisi yang tak terduga, penuh dengan misteri, prediksi, dan prasangka. Disaat itulah kita harus melepaskan belenggu yang terjadi di masa lalu. Dengan demikian, kita harus melangkah dengan paradigma berpikir yang baru dikala kaki melangkah maju. Tak ubahnya seorang burung yang siap mengepakkan sayapnya dipagi hari untuk mengelilingi angkasa raya, tanpa tahu, apakah hari itu akan cerah, angin kan bersahabat, atau justru hujan kan turun lebat. Namun burung-burung itu tetap terbang, menjelajahi angkasa dengan penuh kesungguhan, walaupun diiringi dengan was-was dan ketidakpastian. Bukankah seharusnya manusia harus lebih optimis dalam menatap masa depan, karena ia dianugerahi dengan proses penciptaan makhluk yang terbaik. Sudah saatnya kita melepas buaian masa silam dengan keluar dari nostalgia yang melenakan. Tantangan, ujian, dan cobaan merindukan kedatangan kita. Tak elok rasanya jika kita tak bersiap diri menghadapinya. Optimisme harus selalu terpatri didalam dada, keyakinan yang tak boleh lepas begitu saja. Allah, Sang Pencipta jagat raya tak mungkin memberi cobaan diluar kemampuan hamba-Nya. Sehingga, akan selalu ada secercah cahaya menanti kita di depan sana, tentu bagi kita yang bersungguh sungguh dalam berusaha, dan tak terbuai dengan masa silamnya.

Petaka Sebuah Dosa

Manusia bukanlah sosok makhluk yang sempurna. Ia senantiasa terjerumus dalam lupa dan dosa. Tak pernah sedikitpun ia kan terluput dari segala macam kesalahan. Salah, menjadi suatu hal yang dibenci, namun merupakan suatu keniscayaan yang akan manusia alami. Akan tetapi, kesalahan dalam suatu kemaksiatan memberi citra yang kelam bagi diri seseorang. Kemaksiatan tidak hanya menghapuskan akumulasi pahala yang telah kita kumpulkan, namun terkadang pula menjadikan seseorang putus asa untuk meraih tujuan hidupnya. Acapkali seseorang yang terbelenggu dalam maksiat menjadi hilang dalam menggapai asa, seolah runtuh sudah pondasi kebajikan yang selama ini ia bangun dengan jerih payah. Kemaksiatan memang selalu menghantui manusia dengan derita. Derita berupa siksa dan azab yang siap turun entah dari langit atau bumi datangnya. Padahal, pada saat kita terjerat dalam kemaksiatan, kita tentu belum siap untuk menghadapi kebinasaan.

Kemaksiatan memang merupakan derita yang tiada tara. Diri kita dibuatnya menjadi pecundang dan pengecut dalam menghadapi kematian. Tak hanya itu, kemaksiatan juga meninggalkan noktah-noktah hitam dalam hati kita, menjadikan diri kita sebagai sosok yang keras, kaku, dan kasar. Hilanglah dari dalam diri kita sifat kelembutan, kebijaksanaan, dan kearifan. Air mata pun tak sanggup lagi mengalir dari pelupuk mata kala mendengar ayat-ayat Tuhan dikumandangkan. Kepedulian terhadap sesama pun lenyap, bahkan pun mungkin saja senyum tersirat manakala mendengar orang lain tertimpa dalam bencana. Itulah hati yang telah ternaungi oleh awan gelap. Kemaksiatan telah menggerogoti esensi kemuliaan hati, kemudian menjadikannya hina. Hati seolah kehilangan pijakan dalam melakukan suatu amalan. Semakin lemah oleh rayuan iblis yang teramat melenakan. Hati demikian mudah tergoda akan rayuan makhluk laknat yang menawarkan kesenangan sesaat. Ia kehilangan arah ditengah pekatnya kabut. Tak lagi ada kendali yang mampu menakhodai. Kemaksiatan merupakan cerita pilu dari langkah awal memijak jurang neraka.

Kemaksiatan memang tombak yang menikam jiwa. Ia tidak hanya menjadikannya luka, namun mengoyaknya hingga tercabik-cabik. Jiwa ataukah hati itu menjadi serpihan-serpihan yang sulit untuk merangkainya kembali. Maksiat mengeraskan hati, menjadikannya seakan-akan tameng yang tak tertembus cahaya hidayah. Tentu saja, hal itu akan semakin menenggelamkan hati dalam penyimpangan dan kesesatan. Hati kian terkekang dalam racun dan candu, sulit untuk melepaskan diri darinya. Hati semakin tergoda menunaikan satu kemaksiatan, dan kemudian akan menuju kemaksiatan yang lain.

Demikian hinanya suatu kemaksiatan, hingga ilmu pun pergi dan tak sudi hinggap diakal pikiran. Ilmu sungguh merupakan cahaya yang menjadi penerang dalam hidup kita. Maka ia hanya ingin terendap dalam pikiran dan hati yang bersih.

Pintu taubat masih terbuka lebar selama ruh masih bersemayam didalam raga. Tuhan pun tak sungkan menerima taubat hamba-Nya sebelum kiamat datang menghampiri. Iringan amal soleh pun akan menyapu debu-debu dosa yang mengotori jiwa kita. Namun, ternyata sedikit saja dari kita yang berkomitmen untuk melaksanakannya. Betapa banyak anak manusia yang justru bangga, atau mungkin bahagia konsisten dalam menempuh jalan kelam. Tetap mereka tidak mungkin merasakan esensi kebahagiaan dalam suatu kemaksiatan. Tentu saja, kita semua harus bertanya kepada relung hati yang terdalam. Tidak ada satu pun dari diri kita yang tidak ingin menghirup sejuknya udara surga. Kelamnya hati tentu akan tetap merindukan kebahagiaan di akhirat nanti. Kita tetap saja manusia, makhluk lemah yang tiada sanggup menghadapi siksa neraka yang panasnya tujuh puluh kali lipat dari panasnya api di bumi. Mungkin mulut kita biasa berdusta, namun sanubari tidak akan bisa ditipu. Tanyakan padanya, pasti sanubari teramat mendamba ketentraman kehidupan di surga. Maka tiada lain, kerahkan upaya lindungi diri dari segala perbuatan dosa.