Sifat jemawa memang baru-baru ini sangat cocok jika dilekatkan dengan sesosok media bernama Metro TV yang dengan lantangnya berani menuduh sebuah ormas Islam (Wahdah Islamiyah) dan seorang dai (Dr. Muhammad Zaitun Rasmin) dengan tuduhan sebagai jaringan teroris nasional. Entah redaktur sang media jemawa sedang bermimpi, mengigau, atau mengantuk, berani menayangkan berita dengan bobot keabsahan yang tak bisa dipertanggungjawabkan.
Wahdah Islamiyah merupakan ormas Islam resmi yang terdaftar di Direktorat Jenderal Kesatuan Bangsa dan Politik Kementrian Dalam Negeri. Demikian juga Dr. Zaitun Rasmin merupakan seorang dai yang memiliki jabatan sebagai Ketua Umum Wahdah Islamiyah, Wasekjend MUI, narasumber program ceramah di tv nasional (TV One dan ANTV), dan selalu melakukan tabligh secara terbuka. Jadi jangan samakan Wahdah Islamiyah dengan ISIS yang masuk ke negeri ini dengan cara menyelinap diam-diam. Dan jangan samakan Dr. Zaitun Rasmin dengan gembong teroris Santoso yang aktivitasnya selalu di pelosok hutan lebat. Jadi logika ngelindur bin ngelantur redaktur berita dari sang media jemawa dengan memasukkan sebuah ormas yang terdaftar legal dan seorang dai yang selalu melakukan dakwah terbuka, sebagai jaringan teroris nasional.
Sang media jemawa begitu serampangan menuduh suatu kelompok atau person ke dalam jaringan teroris. Waktu bergulir, sejak datangnya tuduhan itu, ormas Islam dan dai yang dituduh segera berusaha membuat klarifikasi ketidakbenaran berita yang disampaikan oleh sang media jemawa. Citra ormas Islam dan dai itu tentunya sedikit tercoreng dengan adanya tuduhan teroris itu.
Sang media jemawa tampaknya memang tenang-tenang saja. Tidak terdengar atau terlihat membuat klarifikasi atau meminta maaf atas berita dusta yang sudah ditayangkannya. Kebetulan owner sang media jemawa berada dekat dilingkaran penguasa. Apa jangan-jangan sang media jemawa sedang merasa kebal hukum karena Jaksa Agung pun, dulunya adalah anak buah dari sang owner. Niat hati mau menuntut hukum, eh, malah dituntut balik.
Setiap pemberitaan tentang teroris, sang media jemawa selalu fokus main tuduh pada kelompok dan orang Islam. Padahal baru berstatus terduga. Namun pemberontak dibagian Timur Indonesia sana yang jelas-jelas ingin memisahkan diri dari NKRI dan membunuhi puluhan aparat TNI-Polri, tak pernah dijuluki dengan sebutan teroris. Apakah karena pemberontak yang diujung timur sana tidak menggunakan atribut Islam, tidak bernama Islam, tidak berideologi Islam, meskipun meneror penduduk sipil dan aparat militer, lantas tidak layak disebut teroris?
Jadi sebenarnya apa definisi teroris? Apa kriteria suatu kelompok atau seseorang layak disebut teroris? Apakah teroris adalah setiap pihak yang berlawanan ideologi dengan sang media jemawa. Jelas cara seperti itu tidaklah adil.
Tapi namanya juga jemawa, biasanya bertindak ‘suka-suka gua’. Yang penting berita panas sudah bergulir, tayangan dapat rating, order iklan pun mengalir. Perkara kelompok atau orang yang dituduh teroris jadi pusing, ‘emangnya gua pikirin’. Barang kali itu isi otak dari redaktur-redaktur dari sang media jemawa. Mereka bertindak tanpa tanggung jawab. Ketika diprotes, bisa jadi mereka akan koar-koar dengan semboyan kebebasan pers.
Sang media jemawa ini tampaknya memang tak mengenal kata salah dan dosa. Mungkin menurut mereka, orang-orang yang membuat rusuh, melempar batu, dan menghunus pisau, baru itu disebut anarki. Padahal orang-orang yang duduk dibalik meja redaksi dengan membuat berita yang menghujat dan menuduh dengan sembrono, hakikatnya sama dengan berbuat anarki. Mereka ini telah menebarkan kebencian, permusuhan, dan adu domba ditengah masyarakat, sekaligus melakukan pencemaran nama baik pada pihak yang telah dituduh tersebut.
Goresan tinta yang berisi hujatan dan tuduhan keji dapat membunuh kehormatan seseorang. Apalagi jika tuduhan itu di-blow up media, maka dampak merusaknya akan lebih besar lagi. Apa jadinya hidup dengan kehormatan yang sudah terkoyak, apalagi jika dia seorang dai.
Namun sudah menjadi sejarah yang akan selalu terulang bahwa suatu kelompok atau individu yang melakukan aktivitas dakwah, akan selalu ada pihak-pihak yang merasa gerah dan kepanasan, sehingga harus merasa perlu untuk menghalang-halangi aktivitas dakwah tersebut.
Karena tidak pernah mendapat respon anarki, nampaknya itu yang membuat sang media jemawa merasa bebas untuk menuduh kelompok-kelompok Islam dengan tuduhan yang keji. Tentu aktivis dakwah merasa tidak perlu untuk berbuat anarki kepada sang media jemawa, karena darah mereka terlalu mahal untuk dialirkan hanya karena sebuah pemberitaan media jemawa yang hakikatnya murahan. Propaganda kotor sang media jemawa rasa-rasanya tidak akan menyurutkan perjuangan para aktivis dakwah. Bahkan masyarakat luas pun nyata-nyata sudah muak dengan segala bentuk pemberitaan sang media jemawa yang hanya menjadi corong pencitraan politik sang owner.
Sebenarnya sudah menjadi keharusan jika setiap pemberitaan harus berdasar fakta dan data yang valid. Jika sang media jemawa ini mengaku sebagai sebuah news station, maka tiap pemberitaannya harus bisa dicek kebenarannya. Jika pemberitaannya tidak bisa dibuktikan kebenarannya, maka tak bedanya sang media jemawa dengan biang gossip, kalau tak mau dibilang sebagai pendusta.
0 comments:
Post a Comment